Ku menutup mata
Dan menatap kegelapan
Betapa kesendirianku
makin terasa
Entah mengapa kumerasa
Hati ini begitu sepi
Bahkan di tengah keramaian kota
Tak kurasakan mereka di sana
Tatapan lembut dan senyum mereka
Semuanya bagaikan palsu
Kini ku tak tahu lagi
Mana realita, mana mimpi
Kala malam tiba
Ku menatap kegelapan
Betapa kesendirianku
Makin terasa
(DeeWardani-021098)
Gelap...
HENING...(memoirs of 17th August 1998)
Mata anak itu tajam menatapku. Ia diam lama – sangat lama. Tanpa sadar aku pun kembali menatapnya. Entah kenapa perasaanku sangat aneh saat itu. Keramaian di sekitarku samar-samar menghilang. Aku kini tak memperhatikan sekitarku lagi.
Samar-samar pada bibir anak itu tersungging senyum yang tipis, tampaknya seperti ia tak berani memunculkannya. Aku mengalihkan perhatianku, kembali ke keramaian. Perasaanku berkata bahwa pandangannya menyertaiku, aku pun merasakannya.
Aku menatap kosong ke depan dan mengosongkan pikiranku. Mendadak instingku menyuruhku menoleh. Aku menoleh ke arahnya – anak itu. Ia masih terus menatapku. Aku makin merasa aneh. Ingin aku mengalihkan perhatianku kembali. Namun pandangannya terus menarikku. Leherku terasa kaku, aku tak bisa menoleh. Entah kenapa.
Aku kian tertarik padanya – pada anak itu. Aku terus menatapnya seperti ia terus menatapku. Kami berdua saling diam. Sepertinya hanya kami berdua yang ada di sana. Sepertinya keramaian di sekitarku tak terasa. Setidaknya aku tak merasakannya lagi.
Waktu, dan semua yang di sekitarku seakan berhenti.
(DeeWardani-Agustus1998)
Chased...!
I run.
I run through the trees. I run through the bushes. I run, and run, and run. I keep running. I pass the bushes and through the empty field. I keep running, trying not to look back.
I find some other bushes at the end of the field. I wave my hands around, to keep the bushes out of my way. I run, and run…until I reach a burned cottage.
I run through the opened door. I look around at the empty and dark room. There’s a trap door in the middle of the room. I open it and jump inside. I close the door and hide.
It’s cold and small. It’s dark and quiet. I can only hear my heart beat. And I can only hear myself breathing hard…exhausted from running. I hold my breath the minute I hear footsteps on the floor above me.
He’s here.
(DeeWardani-Agustus2005)
I run through the trees. I run through the bushes. I run, and run, and run. I keep running. I pass the bushes and through the empty field. I keep running, trying not to look back.
I find some other bushes at the end of the field. I wave my hands around, to keep the bushes out of my way. I run, and run…until I reach a burned cottage.
I run through the opened door. I look around at the empty and dark room. There’s a trap door in the middle of the room. I open it and jump inside. I close the door and hide.
It’s cold and small. It’s dark and quiet. I can only hear my heart beat. And I can only hear myself breathing hard…exhausted from running. I hold my breath the minute I hear footsteps on the floor above me.
He’s here.
(DeeWardani-Agustus2005)
IF
If only I can fly
I wanna runaway to the sky
Where I can play with the clouds
And let the wind take me
To a more peaceful place
Where I might find you
If only I can turn back time
I wanna go back
To where we would find ourselves together
I would change the past
And make up all the mistakes I’ve done
And If only I can find you, in the past
I wanna tell you – all the things I wanted to say
That I didn’t had the chance to
I wanna let you know how I feel
If only I could
I’d tell you everything
How much I miss you
How much I care
How much I wanted to see you
And if only I could
I would hold you so tight
So I won’t lose you once again
(DeeWardani-121102)
I wanna runaway to the sky
Where I can play with the clouds
And let the wind take me
To a more peaceful place
Where I might find you
If only I can turn back time
I wanna go back
To where we would find ourselves together
I would change the past
And make up all the mistakes I’ve done
And If only I can find you, in the past
I wanna tell you – all the things I wanted to say
That I didn’t had the chance to
I wanna let you know how I feel
If only I could
I’d tell you everything
How much I miss you
How much I care
How much I wanted to see you
And if only I could
I would hold you so tight
So I won’t lose you once again
(DeeWardani-121102)
GRASS
They said…Memang bener kan?
”the grass is greener on the other side of the fence…”
Coba deh…seandainya kita lihat sekitar, pasti tampak seakan2 semua yang dimiliki orang lain, yang dialami ataupun dilakuin orang lain akan lebih baik dari semua yang datang dari sisi kita sendiri.
Seperti ketika A memuji sketsa loe sementara loe berpikir, “gila…si A jago lho sketsanya”. Atau ketika sebenernya gak ada masalah antara loe dan cowo loe, tapi loe tetep bilang ke W, “asik ya, cowo loe main musik jg…pasti enak deh ‘idup loe”. Atau juga ketika loe berhenti di lampu merah dan loe lihat ke mobil di sebelah loe dan menghela nafas sambil bilang, “damn…gue sendirian lagi”. Dan bisa juga ketika loe melihat di tengah keramaian ada seorang cewe yang menonjol bgt dan kelihatan bener2 feminim, dan loe berkomentar, “mmm…bisa gak ya gue kaya dia? Beda bgt ama gue…”
Sebenernya apa yang salah?
Apa bener rumput tetangga itu lebih hijau…bahwa orang lain melakukan semua dengan lebih baik?
Atau cuma karena kita yang gak mo trima klo kita itu manusia biasa dan gak pernah puas atas apapun yang ada dan kita punya?
Atau karena adanya tuntutan…bahwa kita HARUS jadi lebih baik, harus sempurna, harus sesuai seperti harapan orang lain…ekspektasi orang lain?
Meski kita gak sadar…bahwa tuntutan itu sering juga datang dari kita sendiri ketika kita mengintip ke rumput tetangga tadi dan muncul perasaan dimana kita gak mau kalah, dan muncul perasaan bahwa kita seperti makhluk asing di tengah orang lain.
Seperti yang gue bilang…haruskah begitu susah untuk hidup jadi diri sendiri? Jadi apa adanya? Jadi manusia biasa dan bukannya jadi malaikat yang sempurna…meski akhirnya kita jadi gak terlihat?
Gimana caranya kita bisa hidup tanpa rasa iri?
Meminta hal yang gak boleh kita minta?
Gimana caranya supaya kita terima semua apa adanya? Terima porsi kita masing2? Dan gak menuntut lebih…atau sebaliknya, berani menentang tuntutan2 yang dateng dari orang lain ataupun diri kita sendiri supaya kita bisa bernafas dengan lebih lega dan melangkah dengan lebih ringan.
Haruskah gue terus hidup sebagai orang lain?
Gimana caranya supaya kita terima semua apa adanya? Terima porsi kita masing2? Dan gak menuntut lebih…atau sebaliknya, berani menentang tuntutan2 yang dateng dari orang lain ataupun diri kita sendiri supaya kita bisa bernafas dengan lebih lega dan melangkah dengan lebih ringan.
Haruskah gue terus hidup sebagai orang lain?
Orang yang bukan “Aku”…tapi orang yang tertuntut untuk ada oleh keadaan di sekitar gue yang semakin memuakkan….?
Subscribe to:
Posts (Atom)

