Pandora Box

It's like opening a Pandora box...
Knowing what's inside might destroy everything but you still have to open and take a look...
Only to know what's inside...
Only to find answers...
Only to know what is real and what is not...
You will never know what you'll find inside but you do must take everything that you find as your own...
You cannot choose what you take out but every part of the box that you take will become a part of your own...your own life...your own mind
And you must face everything as the hardest test of your life...that might make you grow stronger
************************************************************************************

I guess that's what I go with on my mind and life at the moment
trying to find the truth about what exactly I do want or wish for...
because my wish isn't simple and too scary for me to ask...
My life IS a Pandora box...
inside there will be many questions...many trivia needed to be answered
inside there will be many choices to take...
Everytime I take a step forward on my life...
it feels like opening the box again...without knowing what would I find and have next
And all that I can do is just take whatever is could be taken by my empty hands...
And receive everything full hearted...bravely...
even when it is the most painful thing ever


Di Balik Sadarku

Pernahkah kamu berdiri di hadap cermin
Dan tak mampu mengenali wajah yang ada di depan kamu
Tak mampu mengenali jiwa yang berdiri di balik cermin

Pernahkah kamu merasa
Seakan berdiri di luar jendela
Menatap ke dalam dan melihat dirimu sendiri
Melakukan semua hal yang kau lakukan
Mengalami tiap sakit yang tak kau rasakan
Mengucap kata yang tak kau ucapkan

Pernahkah kamu menangis
Tanpa sedikitpun menetes air mata
Tanpa bersuara
Dan merasa bahwa orang lain tak menghiraukanmu
atau justru mentertawakanmu di balik punggungmu

Aku kini merasa...
Berada di luar tubuhku
Menyaksikan diriku sendiri
Menangis tanpa suara
Mengenakan topeng untuk tertawa
Dan tak mampu mengenali wajah dan suaraku sendiri

Aku seakan berada di ujung persimpangan jalan
Tak dapat mundur dan menatap ke belakang
Hanya bisa berjalan maju ke depan
Tanpa mampu memutuskan

Ketika di satu sisi jalan tampak indah dan menyenangkan di mataku
Dipenuhi lubang dan jarum tajam
Terbentang luas tanpa batas
Sementara di jalan yang lain tampak begitu menakutkan
Dengan ribuan jarum dan lubang bahkan jurang
Namun di ujung jalan sana tampak hamparan padang rumput
Menyembunyikan beribu harap dan juga mimpi

Dua wajah muncul dalam kebimbanganku
Satu diantaranya memanggilku dari masa lalu
Mengingatkanku akan rasa rindu
Namun terus mendukung dan memperkuat jiwaku
Hingga aku masih dapat bernafas dan mengangkat tinggi wajahku
Dan mendorongku untuk terus mengejar mimpi

Wajah yang lain kini menungguku
Dengan penuh cinta dan harap yang membuatku ingin mengejar dan meraihnya
Namun sosok jiwanya yang kini kuhadapi
Justru menumbuhkan ribuan rasa takut dan bimbang
Yang membuatku ragu untuk terus melangkah maju

Di tengah bimbang
Kutatap kedua jalan yang bersimpangan
dan kurasakan takut ini semakin tumbuh menguasai
Takut untuk memilih
Takut untuk mencari jawaban
Takut...
Karena terlanjur kurasakan hati yang belum sepenuhnya kembali utuh ini
nyaris pecah kembali berkeping-keping atas segala kata yang menyakitkan
Takut...
Karena terlanjur aku menyerah
Kala aku tak mampu melihat
Apa yang ada di ujung jalan yang indah menyakitkan itu

Aku tak mau lagi menutup mata
Dan membiarkan gelap menuntunku
Aku ingin melangkah dengan mata terbuka
Dengan segala harapku
Dengan sepenuh sadarku

Jalan apapun yang kan kupilih nanti
Hanya satu harap dan inginku
Aku ingin hidup
Aku ingin terus bernafas
Aku ingin bertahan dengan sadarku
Aku ingin berdiri di hadap cermin
Dan mengenali wajah itu
...sebagai 'AKU'.


(DeeWardani, Solo, 18 Maret 2008)

BOM WAKTU

Suatu hari gue iseng ke Gramedia dan melakukan hobi gue...membaca buku secara gratis, hehe...
dan gue menemukan sebuah buku dengan kata2 yang dalem bgt.
kutipannya nih:

"Kita cenderung menyimpan dan mengumpulkan banyak hal, tidak mau berlatih melepas, termasuk mengumpulkan masalah, yang kecil-kecil sekalipun" (Bersahabat dengan Kehidupan - Sri Pannyavaro)

Si penulis konon adalah seorang Bikkhu asal Magelang yang pernah studi di bidang Psikologi, makanya kata-kata bijak yang ada di buku itu bener2 mantep menurut gue. (gue blm baca secara utuh sih...mungkin kelak ketika gue dah ada cukup dana untuk beli buku ini)
Dari kutipan di atas aja jelas kan...beliau bicara soal bagaimana manusia cenderung menunda menyelesaikan masalah atau cenderung menunpuk masalah dan menutupi seakan masalah itu gak ada. Menutup mata terhadap masalah yang sebenarnya udah lama ada dan mengganggu, kemudian bersikap seolah-olah gak ada apa-apa....sampai akhirnya masalah ini jadi bom waktu. Yang suatu saat nanti akan meledak, menghancurkan semua yang selama ini kita tutupi, kita bentuk, dan selama ini yang berlangsung dan berjalan dengan tenang tanpa terlihat.
Ada banyak alasan kenapa kita cenderung ngelakuin hal ini...ada yang karena merasa gengsi, ada yang karena takut kehilangan miliknya yang paling berharga, ada yang takut nantinya akan kalah atau jadi pihak yang kalah dan mengalah dengan paksa. Atau ada juga yang ngelakuin hal ini sekedar karena gak mau menghadapi kenyataan.
Gue selalu bilang bahwa kita ini cuma manusia biasa, dan banyak sekali kelemahan dan kekurangan yang kita punyai. Dan dui luar sana ada ribuan masalah yang mesti kita hadapin selama kita masih hidup.

Dulu ada seorang senior gue yang bilang, "Kita ini hidup dipenuhi masalah...satu-satunya cara supaya gak punya masalah adalah mati..."

Masalah ada untuk kita belajar, untuk merasakan hidup lebih dalam...untuk bisa jadi lebih kuat...
Masalah ada untuk diselesaikan...karena itu gue gak akan pernah tenang ketika ada sebuah masalah menggantung tak terselesaikan atau ketika orang yang bermasalah dengan gue cenderung lari ato sembunyi.
Gue capek menutup mata dan telinga gue...dan yang pasti gue gak akan menutup mulut gue dari banyak kejujuran yang makin memaksa untuk keluar dari benak dan hati gue.
Gue juga mau hidup tanpa masalah...gak bisa ya?

Aku Kangen Tante Muthia

Aku merindukan tante...
Yang selalu ada menemani tiap kali aku butuh teman bicara
Yang selalu datang dengan penuh kehangatan tiap aku kesepian
Yang selalu menelpon dengan suara lembutnya tiap aku terbaring sakit

Aku merindukan tante...
Yang menyanyi dengan suara lembutnya hampir tiap malam
Yang menari dengan indah mengikuti musik kesukaannya
Yang bercerita dengan lucu tiap kali aku datang menemaninya
Yang ikut berdansa mengikuti musikku
Yang tersenyum bangga kala datang melihat aksi panggungku

Aku merindukan tante...
Yang selalu peduli kala aku disakiti orang-orang terdekatku
Yang selalu kuatir kala aku menangis
Yang ikut marah kala aku marah dan merasa kalah
Yang menangis paling kencang ketika aku memotong rambut panjangku

Aku merindukan tante...
Yang tak bisa hadir di hari puncak perjuanganku
Yang tidak ikut merasakan kebahagiaanku
Yang tidak ada di sisiku kala aku akhirnya menepati janjiku
Yang tak mendampingiku kelak...di hari kelulusanku

Aku merindukan tante...
yang tidak ada lagi di sini


...untuk alm. Tante Muthia
aku kangen...







DeeWardani

14 Maret 2008, 13.22

UNTUK MEREKA YANG KEHILANGAN

Orang cenderung bilang bahwa kita mesti ikhlas ketika kita kehilangan sesuatu atau mengalami musibah. Tapi jujur aja deh…ikhlas itu susah. Ya kan? Munafik sekali ketika kita menjawab, “gue ikhlas kok…” dengan mudah. Karena gue yakin, ketika kita mengalami hal2 yang bikin kita sakit hati, sedih, marah…kita bakal lebih sering mengumpat dan menyesali dan berkali-kali bilang, “duh, seandainya gue gak gini…mungkin…” ato “seharusnya gue…”

Hal kaya gini lazim kok…toh
kita memang hanya manusia biasa, dan penyesalan adalah sifat paling manusiawi yang kita punya.

Dari banyak hal yang gue alamin, gue lihat dan gue dengar…gue banyak belajar gimana caranya ikhlas, mesti gak bisa dengan 100%, tapi setidaknya gue bisa lebih sabar dan kata2 “seandainya” ato “seharusnya” tadi gak banyak gue keluarin ato terpikirkan di benak gue.

Ada satu kalimat yang satu kali gue baca…bunyinya:
“Count not what is lost but what is left” (maaf lupa siapa yang nulis...hoho^^)

Bener sih…coba pikirin dengan lebih logis.
Ketika kita kehilangan sesuatu ato mengalami sesuatu yang bikin kita merasa terpuruk, busuk dan sangat gak berguna…kita akan cenderung menyesali hal-hal yang terlepas dari genggaman kita ato hal-hal yang gak sesuai dengan harapan kita.
Coba deh dibalik…
ketika loe kehilangan seseorang ato ngerasa dikhianati oleh orang yang loe paling percaya, lihat lebih baik di sekitar loe dan loe akan menemukan orang-orang yang masih bisa loe andalkan dan loe percaya, orang-orang yang bisa mendorong loe untuk bangkit dan memegang kepercayaan loe dengan sepenuhnya.
Ato ketika loe gagal meraih apapun yang loe harapkan, rasakan lebih dalam dan loe akan menemukan bahwa segala daya upaya yang udah loe lakukan menyisakan bekas di diri loe, yaitu pengalaman…dan sisa-sisa mimpi itu akan membuka jalan baru untuk keberhasilan loe yang lain.
Ato ketika loe kehilangan harta ato segala hak milik loe yang berharga…loe akan menemukan bahwa masih ada yang loe miliki dan tersisa, yaitu diri loe sendiri dan orang-orang yang loe sayangi yang masih ada di sisi loe.
Hal itu, diri loe dan orang-orang di hati loe itu, adalah harta paling indah yang pernah loe miliki dan gak akan pernah hilang dari hidup loe, selama Tuhan masih menghendaki semuanya masih loe miliki.

Cuma ini cara gue ikhlas….lumayan ngebantu sih, coba deh^^