Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

A Mother and A Daughter

Seorang ibu memberikan putrinya sebuah kanvas putih kosong dan seperangkat alat lukis.

"Bu, saya tidak bisa melukis."

"Coba dan belajar. Nanti kamu akan mengerti."

Sang putri lalu dengan setengah antusias dan penuh rasa ingin tahu mulai melukis di atas kanvas kosong, menggoreskan kuasnya di sana sini dan memenuhi kanvas itu dengan warna-warna kesukaannya. Tepat ketika selesai ia memandang hasil karyanya dan kecewa. "Saya tidak suka hasilnya."

Sang Ibu hanya tersenyum dan membelikan lagi sebuah kanvas baru untuk putrinya yang sedang sedih.

"Istirahat dulu, lalu coba lagi, lihat dulu mana yang akan kamu ubah. Nanti lama-kelamaan kamu akan mengerti."

Setelah merasa tenang akhirnya sang putri mencoba lagi, menggoreskan kuasnya ke sana dan kemari. Mewarnai kanvasnya dengan warna-warna kesukaannya dengan cara yang berbeda. Setelah beberapa lama dia berhenti dan menatap hasil karyanya. Ia kecewa.

"Saya tidak suka. Saya pasti tidak bisa melukis," ujarnya sambil menangis.

Sang ibu datang dan memeluk putrinya. Dengan penuh kasih sayang ia mendorong putrinya untuk mencoba lagi. Setiap kali selalu berulang, jika sang putri gagal ibunya akan datang dan memberikannya kanvas atau perlengkapan baru, menyemangatinya dan menemaninya sampai putrinya mau berusaha lagi untuk melukis. Hal ini berlangsung berhari-hari dan berminggu-minggu.

Setiap waktu sang putri yang merasa gagal akan merasa sedih, namun dengan dorongan semangat ibunya ia mampu berusaha melukis lagi. Setiap kali menghadapi kegagalan dan mencoba lagi ia akan menatap lukisan sebelumnya, mempelajari hal-hal yang tidak ia suka lalu mencoba cara-cara baru dan memberi warna baru dalam lukisannya.

Pada suatu hari sang ibu menghampiri putrinya yang tampak sedang tersenyum ceria. Kali ini dalam kanvasnya tampak sebuah lukisan dengan warna cerah dan indah. "Saya bisa, bu."

Sang ibu sambil tersenyum mengajak putrinya menatap tiap lukisannya selama ini satu persatu dan berkata,

"Kamu lihat? Bagaimana kamu belajar sampai kamu bisa menyelesaikan lukisan kamu? Berawal dari kanvas kosong yang Ibu beri, kamu mulai mewarnai. Tiap kamu mencoba lagi, kamu akan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan kamu di lukisan sebelumnya, dan menghasilkan sesuatu yang baru. Dan kamu melakukannya berulang-ulang sampai akhirnya kamu menemukan sebuah cara untuk menjadikan lukisanmu indah seperti sekarang.

Itulah hidup. Kanvas putih itu adalah kamu. Ketika kamu hadir pertama kali, begitu polos dan bersih. Lalu akan datang berbagai warna yang akan menghiasi kamu. Dan akan ada saatnya ketika warna yang datang tidak sesuai hingga kamu kecewa atau merubah hidup kamu menjadi jauh dari apa yang kamu mau. Tapi selama hidup masih berjalan, kamu bisa memulai segalanya lagi. Dari awal, kembali ke nol. Menjadi kanvas putih yang bersih untuk kembali menyambut warna-warna baru lagi. Begitu terus dan terus jika kamu masih memberi kesempatan pada dirimu sendiri dan masih mau mencoba. Pada akhirnya warna yang tepat akan datang. Dan kamu akan tahu bagaimana menghiasi kanvasmu, hidupmu, dengan warna yang baru.

Ada banyak kesempatan bagi kamu untuk mencoba, untuk belajar, untuk mengenal segala macam "warna" hidup. Dan ibu tidak akan selalu ada untuk kamu. Jadi kamu harus berusaha sendiri. Sekarang kamu paham bahwa kamu bisa. Kamu bisa melakukan apapun, jika kamu mau mencoba. Bahkan nanti ketika kamu menghadapi hidupmu sendiri, dengan mengenal warnamu sendiri, kamu pasti bisa. Lukislah hidupmu dengan sepenuh hati kamu. Selalu coba dan coba lagi sampai nanti kamu bisa menjadikan hidupmu indah selayaknya lukisan cantik yang kamu inginkan, dengan kekuatan kamu sendiri."

This is the kind of mother I want to be.
.deewardani.
Jakarta, 11 Januari 2012

Wish I Can

Ada seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang hidup di dalam diri saya. Pada suatu hari ia berteriak,
"I don't want to grow up!"

Dan saya hanya menjawab dengan singkat,
"Too late, dear."

Kali ini di balik air matanya ia kembali berteriak,
"Growing up is painfull. Make it stop!"

Saya menghela nafas panjang dan menjawab,
"I know, dear. I wish I could."

A Week Of Birthdays --


Monday's child is fair of face,
Tuesday's child is full of grace,
Wednesday's child is full of woe,
Thursday's child has far to go,
Friday's child is loving and giving,
Saturday's child works hard for its living,
But the child that's born on the Sabbath day
Is bonny and blithe, and good and gay.

(-Taken from The Real Mother Goose)
“Apa yang ada di hati dan pikiran kita selalu berbeda. Tapi seringkali kita menyalahartikan apa yang kita dapat dari keduanya...ketika isi hati kita sebut sebagai logika dan isi pikiran kita sebut sebagai teriakan hati yang cengeng. Dan kita tidak akan pernah tahu mana yang lebih menang dan mana yang akan memberikan kita kemenangan. Itu namanya resiko kehidupan...sayang sekali kita manusia yang hidup, yang merasa dan berpikir. Maka hingga nafas terakhir kita di bumi habis, kita harus selalu menghadapi dan menjalani hidup dengan ditemani oleh keduanya.“ (Rayka Irene Nazrene)


Hati.

Pikiran.

Hidup.

Teman.

Hidup dengan segala resiko dan pertanyaannya. Dengan segala warnanya.

Ada bagian dari diri ini yang merasa telah muak dengan segala omong kosong yang ada dan ingin berhenti. Ada bagian dari diri ini yang ingin menghadap langit dan berteriak kencang untuk bertanya pada Tuhan ketiga pertanyaan yang muncul di kepala pagi ini, “Kenapa?”, “Kenapa?” dan “Kenapa?”

Kenapa harus aku yang selalu menangis?

Opsi.

Apa yang akan terjadi ketika sebuah hati harus memilih antara cinta dan kebahagiaan?

Apa yang akan terjadi ketika satu sosok manusia yang belum dewasa harus menghadapi kedewasaan dan akhirnya terjebak dalam persimpangan jalan?

Manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak pernah mudah untuk dijawab dan ditunjuk.

Apa yang akan terjadi ketika hati dan manusia itu yang menjadi pilihan?

Dan ternyata tidak di pilih?

Opsi.

Pilihan.

Tanya.

Jawab.

Kenapa hidup ini harus begitu rumit?

Hidup dan teka-teki nya yang selalu ku cintai dan entah kenapa selalu bisa membuat ku makin jatuh cinta.

Bagaimana jika pada akhirnya aku lagi-lagi tidak memilih?

Atau aku memilih…

Bukan cinta.

Bukan kebahagiaan.

Hanya hidup.

what I want right now - -

Aku ingin berlari sekencang angin

Aku ingin terbang melayang melompat sekuat tenaga setinggi mungkin ku bisa untuk meraih mentari

Aku ingin berputar dan berputar dan berputar sekencangnya melawan arah mata angin dan arah jarum jam sambil berharap aku dapat membuat semua di sekitarku ikut berputar hingga waktu pun berputar berbalik arah bersama ku

Aku ingin menari dengan selembut mungkin dengan sekuat dan sekencang mungkin hingga bukan lagi music yang mengiringiku tapi aku yang memimpin music

Aku ingin berteriak kemudian berteriak sekuat tenaga hingga tenaga ku suara ku dan seluruh sisa luka ku habis kepada langit untuk mempertanyakan seribu pertanyaan yang kembali muncul dalam pikiran hati dan jiwa ku

Aku juga ingin meneriakkan nama mu hingga ratusan kali hingga nafas ku habis hingga setiap titik goresan yang kau buat dalam hati jiwa dan seluruh diri ku ikut habis…dan aku takkan mampu menyebut nama mu kapan pun lagi

Meski ku ingin….tak semua hal itu bisa ku lakukan…

Yang dapat ku lakukan saat ini….

Hanyalah duduk diam menyendiri dalam kegelapan kamar sambil menutup mata dan mencari jauh jauh jauh dan jauh dalam diri jiwa dan hati ku seluruh kekuatan yang ku miliki...untuk ku gali dan ku angkat dan ku tumbuhkan...agar aku dapat keluar dari dalam lubang penuh kegelapan ini sebagai pemenang.

DeeWardani.

040310 19:50

Hope...

Bolehkah aku berharap...?
Bolehkah aku menatap masa depan dengan harapan yang cukup untuk membuatku masih ingin hidup dan bernafas dan bertapak di atas bumi...?
Ku mohon tetap lah berada di ujung jalan sana bersama cahaya mu...
Dan jangan pergi...
Supaya ku tak lagi tersesat dalam gelap sekali lagi

Hujan...

Aku suka hujan...
Aku suka menatap tetes-tetes air hujan jatuh membasahi bumi
Aku suka mendengar suara jatuh air di permukaan tanah, rumah, atap, pohon dan segala permukaan yang siap menyambut datangnya
Aku suka merasakan tiap tetes air hujan jatuh membasahi diriku...tubuhku...rambutku...wajahku...

Aku suka hujan...
Aku suka berlari menyambut hujan
Aku suka menari di tengah hujan
dengan tetes air membasahiku....dan percikan-percikan air di tanah yang terkena langkah kakiku
seakan ikut menari bersamaku dan menemaniku menyambut hujan

Aku suka hujan...
Aku suka berteriak dalam hujan melawan suara gemuruh petir
Aku suka menangis dalam hujan dan membiarkan air mataku ikut larut terbawa tetes air hujan yang membasahi wajahku

Aku bisa semakin merasakan kesendirianku saat hujan
Ketika dinginnya menusuk begitu dalam hingga menyakiti jantungku
Ketika tidak ada yang datang untuk merengkuh tubuhku dengan penuh kehangatan
Aku bisa semakin merasakan kerinduanku saat hujan
Ketika tiap iringan tetes air hujan membawaku kembali dalam waktu
Jauh dan semakin jauh dalam masa laluku

Aku suka hujan...
Dan membiarkan diriku...jiwaku...hatiku...ikut hanyut bersamanya

when 'Hope' does come....

Beberapa waktu belakangan ini gue selalu lebih banyak menyendiri, merenung, melamun dan akhirnya menyadari terkadang ketika gue berbicara ke diri gue sendiri....ada sebuah suara yang menyahut, bukan menjawab, melainkan mengulang kembali kata2 gue, setiap keluhan, umpatan, pertanyaan. Suara ini datang dari dalam diri gue, bukan dari hati ataupun kepala gue, dengan suara yang lebih lantang, kecil dan riang.

Lalu ketika pada sekian kalinya suara ini berbunyi mengikuti, gue menutup mata dan mencari si empunya suara. Dan akhirnya gue temukan dia disana, di salah satu sudut dari sebuah ruangan kecil yang masih tersisa di dalam diri gue. Duduk jongkok sambil memeluk kedua kaki nya yang terlipat di hadapannya, dengan tubuh yang begitu mungil dan tampak lincah, mata yang lebar dan makin membesar ketika mendapati gue menatap dia disana. Dia tersenyum....dan bilang, "There you are..."

ME : Who are you?

HOPE : I'm the one you've been looking and waiting for....I guess I'm supposed to be the only candle that still lights up when everything gets dark...

Gue cuma bisa diam...secercah harapan yang kehadirannya tidak membuat gue merasakan apa2, tidak seperti yang gue bayangkan akan bisa gue dapat jika akhirnya dia datang. Gue berbalik badan dan dia menghentikan gue...

HOPE : Hey, where're you going?

ME : Come....I need to show you something

Anak kecil itu bangkit dengan muka yang begitu cerah seakan ruangan gelap itu menjadi terang benderang dan dia pun melangkah riang mengikuti gue, sambil setengah menari di tiap langkahnya dan bersenandung riang seakan gue mau mengajak dia piknik ke taman bermain.
Kami tinggalkan ruang kecil itu, menuju ke ruangan lain dalam diri gue, dimana sahabat gue, Heart, masih tertidur lelap dalam istirahatnya.
Gue berhenti gak jauh dari tempat tidur sahabat gue, sementara si anak kecil yang sedari tadi mengikuti gue dengan riang kini terdiam dan berdiri menempel di balik punggung gue, menatap sahabat gue yang sedang tidur lelap penuh luka dan sakit dengan matanya yang lebar.

Mind bangkit dari duduknya ketika menyadari kehadiran kami, menatap Hope dengan tatapan dinginnya yang seolah bilang, "Oh....it's you....". Gue melangkah mendekati Heart, meraih tangannya dan Hope mengikuti. Tanpa aba2 dia langsung duduk di bangku tempat Mind semula menemani rekannya lalu dengan lembut meraih tangan Heart yang lemah. Matanya begitu antusias, wajahnya begitu cerah. Dan tampak wajah Heart seketika melembut, seolah lebih tenang.

ME : Can I trust you?

HOPE : (tersenyum) Why shouldn't you trust me?

ME : Because everytime I accept you, trust you and put all my prayers and dreams to you....you always walk off from me and leave me behind, empty and dissapointed. That's what happened to him....you walked off, and he got hurt. We got hurt....too painful...

HOPE : (menoleh ke arah gue) Let me stay a bit while, and later on when you leave you can look back to see me to know that I'm staying...

HOPE : I'll cure him....and make you trust me again...

ME : Don't promise me anything...just do it...

Dan gue pun kembali meninggalkan Heart beristirahat dan tertidur...kembali sendiri, menunggu sampai dia siap untuk terbangun lagi...

bbrp waktu blkgan ini hati gw tertidur dan pikiran gw selalu bilang :
"coba bangunin dia...terlalu lama tidur gak akan jadi baik".

sekarang hati gw terbangun dan dia bilang :
"NGEPET!! siapa tadi yang bangunin gw??!"
pernah berdiri di tengah keramaian dan merasa seakan semua lampu tersorot ke dirimu dan semua orang di sekitar menatap ke arahmu, menelanjangimu dengan tatapan mereka, mencibir ketika melihat tatapan matamu yang menatap balik ke mereka dan berbisik2 mengomentari bukan pakaian yang kamu kenakan tapi seluruh struktur tubuh mu?

apa yang kamu lakukan ketika mengalami itu?
salahkah ketika ku menatap balik pada mereka dan menantang 'kesempurnaan' yang mereka banggakan dengan penuh kemunafikan?

jiwa dan tubuhku ini milik ku.dan adalah hak ku tentang apa yang ingin ku lakukan terhadap milik ku.
bukan begitu?

jangan hakimi saya.saya hanya manusia.kalian dan mereka juga sama kan?
sebelum tuntut saya untuk menjadi sempurna
seharusnya 'mereka' menatap diri mereka sendiri dulu di hadapan kaca.dan telanjangi diri mereka sendiri dengan tatapan mereka.

maaf.saya hanya ingin bicara.permisi.
Ku sendiri...
Ku tutup mata...

Dan akhirnya ku bisa melihat diriku sendiri terduduk di atas kursi kayu dalam kamarku yang gelap. Tapi tak sendiri...kawan lama ku yang baik berdiri dengan tegap dan pasti. Ku tatap wajahnya yang selalu tampak dingin tanpa ekspresi, namun kini tersirat jelas amarah di wajah nya yang putih bersih. Dia menatapku dengan pandangannya yang ku kenal, dingin, hampa namun selalu tahu apa yang harus dikatakannya pada ku.

Tanpa banyak berkata dia mengalihkan pandangannya ke tempat tidur. Dimana kawan baik ku yang lain sedang terbaring lemah di permukaannya. Tubuh kurusnya yang masih penuh dengan perban, luka dan keringat kini terbungkus dengan selimut tebal yang melindunginya dari dingin udara.
Ku mendekat...
dengan seluruh bagianku terasa teriris dan seakan tubuhku diselimuti sebuah awan pekat bernama 'penyesalan'.

Kawanku yang masih berdiri di sisi ku mulai berkata dengan lembut...

MIND : We tried hard enough but turns out they still don't work...

MIND : He's still hurt...he's still in pain...

Ku menganggukkan kepala ku dan menunduk di atas tempat tidur. Mata kawanku terbuka menatapku dengan kedua mata nya yang lemah dan hampa.

ME : Forgive me...I failed to find the cure for you

HEART : That's okay...


HEART : We've tried...failing is a process,
she said...

Dengan lemah dia menunjuk ke arah MIND yang menatap kami berdua...

HEART : I feel so weak...I am so tired...I need rest...

HEART : Let me be alone for awhile...let me close my eyes...maybe time would heal me, maybe my sleep will give me more strength

ME : Of course...

ME : Go to sleep, rest now... We won't ever bother you so you can be at peace.... I will wake you when your are ready. When we are ready to face the world, to face life once again.

HEART mengangguk pelan dan menutup matanya perlahan. Ku menunduk dan menarik selimut tebal itu semakin rapat menutupi tubuh hingga nyaris sampai ke wajahnya. Ku menegakkan tubuhku dan menarik tangan MIND untuk meninggalkannya di ruangan itu sendirian. Agar kawanku yang kusayangi itu bisa beristirahat dalam kedamaian.


*Dedicated to HEART...sleep tight and have a nice dream...enjoy your rest...I will leave you with your peace


Belati

Berikan ku belati
Bukan karena aku ingin mati
Aku muak punya hati
Ijinkan ku keluarkan benda keparat ini
Dari tubuh lemahku ini

-deewardani,150509-

*written on Facebook on Friday, May 15, 2009

ku ingin sendiri!

ku lelah berlari
ku lelah berjuang
ku lelah bertahan
ku lelah berusaha untuk meraih semua

ku kira ku telah berada di tempat yang kuinginkan
ku kira ku telah menemukan jawaban
tapi ternyata akhirnya ku kembali
di sini
di awal cerita
kembali ke tempat sebelumnya ku berada

ku muak akan semua ini
biarkan ku simpan hati ku di dalam lemari
ku kunci
dan biarkan ku buang kunci itu jauh-jauh dari sini

biarkan ku sendiri....!!!!


*written on Facebook at Sunday, April 19, 2009


Dalam perjalanan ku mencari Tuhan
Aku menemukan cinta
Dan ketika aku menemukan Tuhan
Aku kehilangan cinta dan hidup ku

Ingin aku mengutuk Tuhan
Seperti aku mengutuk dunia, langit dan segala isinya
yang memisahkan ku dari Sang Cinta

Tapi ku sadar...
Tuhan melakukan ini karena cemburu
Ketika seluruh isi hati, hidup, jiwa dan raga ku
Kuserahkan sepenuhnya untuk dia yang ku cinta
Tuhan melakukan ini karena cemburu
Karena aku menemukan dia lebih dulu

-deewardani-
dedicated to 'M'
memoirs of March 15th, 2001


The Cure

Pada suatu malam yang telah lalu....
Gue tertidur dengan tubuh terasa lemah tak berdaya, tertidur dengan hati yang hancur dan muka yang basah oleh air mata....terjatuh tidur gue malam itu karena lelah gue menangis, ketika gue mendapatkan suatu kenyataan yang sangat menyakitkan, ketika sadar bahwa gue telah jatuh sekali lagi ke dalam lubang yang sama yang selama bertahun-tahun belakangan ini selalu menjerat gue dan mengubur gue dalam-dalam...

Dan ketika pagi hari tiba...
Gue terbangun dari tidur gue dengan rasa sakit menjalar di seluruh tubuh, kepala, tulang-tulang rusuk dan semua organ-organ lunak di dalam tubuh gue sebagai sisa dari sakit yang menekan gue malam sebelumnya dan karena dingin dari AC kamar menusuk dengan kejam ke tubuh gue, tanpa peduli bahwa tubuh gue dan hati gue saat itu memang telah nyaris hancur...

Dengan berusaha melawan segala sakit dan lemah tubuh gue pun membuka kedua mata gue yang masih melekat akibat air mata yang telah mengering saat tidur dan berusaha menggerakkan tubuh yang kaku dan nyeri di setiap inci....dan ketika gue membalikkan badan gue, gue dapati kedua teman lama yang gue sangka telah lama pergi sedang berada dalam ruangan menemani...

Butuh beberapa detik lamanya untuk bisa melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan pagi itu, saat gue berusaha untuk melawan ngilu-ngilu di tubuh lemah gue...
dan ketika akhirnya kedua mata gue dapat melihat dengan lebih jelas, tampaklah oleh gue apa yang sedang mereka lakukan di tengah gelap dan dingin kamar...

Di sudut ruangan sana tampak teman baik gue, Heart, sedang terduduk lemas dan bersandar di kursi kayu yang gue pakai untuk menulis di meja tulis gue. Tubuhnya tampak kurus kering, rambutnya berantakan, kepalanya menunduk tapi tampak di mata gue wajahnya yang pucat itu, basah dan kotor sementara kedua matanya merah dan sembab...dan ketika gue memaksakan mata gue untuk melihat lebih jelas, gue baru bisa lihat bahwa di sekujur tubuh, tangan, kaki, wajah, kepala, telinga nya....terpenuhi oleh luka, darah, debu, tanah, air....dan tubuh nya bergetar seolah menahan sakit dan dingin...dan malu...

Di hadapan nya tampak teman baik gue yang lain, Mind, sedang berjongkok di lantai dan sibuk dengan sebuah kotak kecil berwarna putih dengan lambang P3K, di tangannya yang bergetar dan sekeliling tubuhnya tampak berbagai macam obat-obatan, perban, plester, obat merah, betadine, alkohol, kapas dengan penuh darah...dan bahkan ada pula jarum jahit dengan benangnya yang telah habis pakai...berlumuran cairan merah dan ada beberapa potong kain tergeletak berantakan seolah baru saja dipakai untuk membungkus dan mengangkut barang yang berat dan kotor...wajahnya tampak begitu pucat, lelah, kurang tidur, khawatir....

Tersadar bahwa gue yang masih tergeletak di atas tempat tidur telah terbangun dan membuka mata, dan sedang menatap ke arah nya, Mind menoleh kaget ke arahku dan makin tampak wajahnya yang panik dan khawatir menembus gelap kamar, dan dia berkata....

MIND : You're awake??

ME : I just did....what's wrong??

MIND : Something went wrong, I found him hurt....really bad... he was torn to pieces and I had to collect him all and I am trying to put him back whole again

Gue kaget dan merasa makin sakit di seluruh tubuh gue....nyaris kembali menangis ketika menatap kepanikan di wajah Mind dan melihat Heart yang sedang berjuang menahan sakit dan bertahan hidup. Gue pun memaksakan diri untuk bangun, dengan berusaha menahan agar tubuhku sendiri tak rontok dan jatuh hancur ke lantai menjadi bagian-bagian kecil serupa dengan Heart di ujung ruangan sana....

Mind kembali sibuk dengan perban dan plester nya...tangannya bergetar sambil dia berusaha mengobati dan menenangkan Heart yang masih terus diam menunduk tanpa ada emosi apapun muncul di wajahnya kecuali tampak bahwa ia sedang menahan sakit...
Perlahan tapi pasti gue paksa diri gue untuk bisa bangkit dari tempat tidur dan perlahan gue melangkahkan kaki gue menuju ke arah mereka berdua. Jarak antara kami tidak terlalu jauh, tapi segala daya gue seakan percuma...ketika tiap kali gue gerakkan badan gue, tiap kali gue melangkah, terasa seisi tubuh gue rontok dan hancur dan rusak menjadi kepingan-kepingan kecil dengan cepat, hingga tak hanya terasa sakitnya namun suara kehancurannya pun bisa gue dengar.
Tapi dengan segala daya yang gue miliki gue paksa tubuh gue untuk tetap tegak melangkahkan kaki gue di atas lantai dingin kamar gue itu mendekati kedua teman gue tadi....

Tak lama gue pun menjatuhkan diri gue perlahan untuk ikut duduk di samping Mind...dengan menahan dingin yang masih menusuk tubuh gue, gue ulurkan kedua tangan gue yang bergetar hebat untuk mengambil beberapa kapas dan obat untuk membantunya mengobati Heart di hadapan gue....
Menyadari keberadaan gue di situ, Heart sedikit mengangkat kepalanya dengan perlahan dan makin tampak di mata gue wajah pucatnya yang berjuang menahan rasa sakit, dan terasa oleh gue tubuhnya yang lemah dan nyaris mati...dengan suara bergetar hebat dan terputus-putus Heart berkata...

HEART : Are you okay ?

ME : Why are asking me ? You're the one that is hurting....

HEART : That's why.... I am broken in pieces... be... because you are t.. too...

HEART : Y... you don't have t... to help me.... go get some more.. r ....rest.... please....pleaaasee...

Gue gelengkan kepala gue perlahan....


ME : No, I have to do this.... I need to help fix you, but forgive me because this is the only thing that all I can do for you now...

HEART : W...why is that ...?

ME : These medicines won't help much.... there's only one cure you need, and I'm so sorry 'cuz I can't give it to you yet...I don't have yet....not yet...not now...

HEART : Why? Wha....what is it...?

ME : H o p e



Kemudian, untuk pertama kali nya gue alami... ketika gue tatap mata hampa Heart saat itu, tampak air mata menetes perlahan membasahi pipinya....untuk pertama kali nya, ia menangis


* Didedikasikan untuk Heart yang sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya saat ini, dan Hope, di manapun kamu berada.....


Fragmen.p.01

Bungkam aku....
Ku tak mau lagi bicara

Bersihkan aku...
Ku merasa sangat hina

Matikan aku....
Ku tak mau lagi merasa

Musnahkan aku...
Ku tak mau lagi ada


Tapi jangan lupakan aku...
Mimpi ku masih bersuara


-deewardani, 150409-



*fragmen dari Bung, karya DeeWardani

Another Conversation

Selama beberapa waktu belakangan gue jarang sekali diganggu oleh kedua teman setia gue, Mind dan Heart. Kadang gue berpikir mungkin karena gue lagi berusaha untuk fokus ke pekerjaan ketimbang ke hidup gue, atau karena gue pun lagi bingung karena terlalu banyak suara yang gue denger jadi gue udah gak bisa denger lagi suara percakapan mereka yang biasanya menemani pagi hari gue.

Sampai suatu ketika...
Di suatu malam gue menerima sms yang membuat hati gue hancur, kecewa dan merasa kangen setengah mati sama satu sosok yang sebenernya udah nyakitin hati gue. Kata-kata yang nyakitin, emosi, ekspresi yang sama sekali gak gue sangka akan gue dapetin membuat gue ngerasa malam itu bener-bener kesepian. Dan gue menangis....

Saat itu, ketika air mata gue dengan deras mengucur di pipi gue. Gue bisa rasain seluruh tubuh gue terbagi di bagian-bagian kosong, dan ketika gue bener-bener kosong itu....gue bisa rasain kehadiran mereka. Berdiri menatap gue, yang sedang terpuruk di lantai kamar kost gue, dengan iba dan ketika gue mengangkat wajah gue menatap balik ke mereka, kedua teman gue itu mulai berbicara ke gue.

MIND : Please stop crying....

ME : But I can't stop...I'm hurt... I'm broken. Can't you see?

MIND : Of course I can see, That's why I'm asking you to stop crying

ME : Why?

MIND : It's not worth it. That person is just not worth it...

Tapi ternyata gue menangis semakin kencang...semakin berharap orang yang paling gue kangenin ada disini untuk merengkuh gue, memeluk gue, menenangkan gue...dengan segala caranya yang dulu selalu bisa membuat gue berhenti menangis. Dan ketika gue kembali menelungkup ke lantai kamar, gue bisa rasain
Mind, teman baik ku itu, melangkah maju mendekatiku. Tapi Heart, yang sejak tadi cuma diam menghentikan dia...

HEART : No, just let her.... She needs to cry. Let her...

MIND : I can't. I just can't take it. Please stop...

HEART : Just let her cry...

Suara
Heart yang begitu tenang justru mengejutkan gue. Dan sekali lagi gue menatap mereka yang masih berdiri menjulang tinggi di hadapan gue yang masih terpuruk di lantai kamar, membasahi pelapis lantai kamar dengan air mata gue. Gue tatap wajah Heart yang polos dan kosong. Gue bisa lihat betapa beratnya dia menahan sakit, seolah-olah dia sedang mengalami sakit yang sudah cukup akut yang seharusnya bisa menyebabkan dia terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan kabel-kabel menempel di tubuhnya.

ME : Why are you so calm?

Heart menoleh padaku dan bilang,

HEART : Why? Is there something wrong...?

ME : No, it's just that I am hurting. And you're supposed to be hurt

HEART : And why is that?

ME : Because you are my heart. You're supposed to be hurting. That's why I'm crying. Why are you so calm?


Wajah
Heart beralih menjadi kaku, tapi kedua matanya begitu tenang. Lama, akhirnya dia menjawab,

HEART : Because I've been so much in pain..... I no longer feel anything....

Dia menatapku begitu dalam, menghentikan seketika air mataku dan membuat nafasku lebih longgar ketika dia menjawab,

HEART : I'm numb.





Daily Conversation

Belakangan ini gue seakan dilanda kemelut, kebingungan, kebimbangan (wait...dua kata terakhir ini bukannya maknanya sama ya?), dan gue nyaris frustasi karena entah kenapa kepala gue semakin terasa 'penuh' padahal gue selalu berusaha untuk gak terlalu banyak ambil pusing soal hal-hal gak penting yang memang (sebenarnya) jadi sebab musabab atas semua kemelut gue.

Kemudian....ketika gue sedang
'terbebani' dengan semua pikiran yang terus menerus berputar dengan liar di dalam kepala gue, gue akhirnya merasakan adanya satu hal yang terjadi di dalam diri gue. Ketika gue selalu berusaha menciptakan dan menikmati keheningan untuk bisa setidaknya 'sedikit' menenangkan liarnya pikiran gue, gue sadar bahwa ada satu hal yang terjadi dalam diri gue, dimana Pikiran (MIND) dan Hati (HEART) gue seakan menjadi pribadi yang berbeda, dengan sifat dan maksud yang berlainan....saling berbicara seakan mereka berdua adalah orang-orang asing yang baru saja menemukan diri mereka dan satu sama lain sama-sama 'terperangkap' di dalam diri gue.

Nyaris tiap hari gue berusaha berbicara pada mereka....tapi mereka justru asik dengan percakapan rutin yang terjadi setiap hari setiap saat setiap kali gue berusaha hening dan menenangkan diri. Dan gue pun dengan tenang selalu mendengarkan mereka saling bicara:

MIND: Hey, there...

HEART: Oh,hey...

MIND: Hey...what's wrong? Are you okay?

HEART: Umm...yeah, I guess... uh no, I'm not... ummm, yes...No! Ummmm....Arrrghhh! NO....I'm NOT okay!

Dan percakapan ini akan terulang lagi pada hari yang sama berulang-ulang....lagi dan lagi
dan lagi, dan berlanjut lagi keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, dan keesokan harinya lagi...memenuhi kepala gue dan membuat gue gagal meraih keheningan dan ketenangan diri gue. Dan dengan jawaban akhir dari Hati gue (HEART) yang selalu sama, maka hari itu gue pun akan mendapatkan perasaan yang sama dengan apa yang dia rasakan.

Lemah....dan semua semangat dan kekuatan yang semula terkumpul akan hilang gitu aja. Yang tersisa cuma gue dengan 'hampa' berusaha mencapai tempat kerja atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang harus gue kerjakan, dengan berpura-pura bahwa gue sedang berusaha sekuat tenaga agar bisa melewatkan hari itu dengan sebaik-baiknya.

Dan pagi ini...lagi-lagi gue mendengarkan Pikiran
(MIND) dan Hati (HEART) gue saling berbicara. Seolah ketika gue sedang melangkahkan kaki menuju ke tempat kerja gue, kedua sosok asing yang masih 'betah menginap' dalam diri gue ini baru saja terbangun dan saling melihat satu sama lain. Gue menunggu dengan penuh rasa penasaran ketika sang Pikiran mulai bicara:

MIND: Morning...

HEART: Morning there too...

MIND: How are you? Are you okay?

Untuk sesaat gue merasakan adanya kepastian yang dirasakan sang Hati, dan menciptakan adanya kepastian dalam diri gue sebagai jawaban untuk kemelut gue hari ini....ketika setelah beberapa lama, muncul jawaban dengan suara pasti:

HEART: No....absolutely, not....!



*didedikasikan terutama untuk kedua teman setia gue, MIND dan HEART, yang selama beberapa waktu ini menjadi teman yang mampu menemani setiap keheningan dan kesunyian gue, sampai akhirnya gue 'nyaris' lupa arti kesepian

aku ingin kesunyian

Apa yang sangat sangat sangat aku inginkan saat ini??

Aku ingin kesunyian...
Kesunyian yang sama ketika aku terbangun di waktu subuh kemudian duduk di teras kontrakan mungilku, menghirup udara pagi yang dingin dan penuh embun, menatap ke jalan kecil di depan rumah yang sepi meski sesekali dilalui oleh lalu lalang tetangga sekitar hingga tampak anak-anak berlarian menuju sekolah.
Kesunyian yang sama ketika akhirnya
Ray ikut duduk di sampingku, tanpa suara, menemaniku menatap kekosongan di hadapan kami sembari sesekali menghisap rokok putihnya.
Kesunyian yang sama ketika kami tetap duduk berdua tanpa saling bersuara, hanya menatap ke muka dan ditemani oleh suara-suara lalu lalang orang sekitar, kicau burung-burung yang baru terdengar kala suara motor atau sepeda mulai menghilang dari jangkauan, suara tawa dan suara angin.
Serta suara hati kami sendiri.

Aku ingin kesunyian...
Kesunyian yang sama ketika aku duduk sendirian di atas tempat tidurku, di tengah gelap kamar. Tersudut di pojok tanpa cahaya dan hanya memeluk lututku sendiri. Membiarkan telingaku menikmati hanya suara kipas angin, suara jangkrik dari luar jendela kamar, suara tiupan angin yang perlahan dan sabar menggerakkan daun-daun di pohon-pohon tua di halaman rumah. Tanpa membuat suara sedikitpun...
hingga aku nyaris mampu mendengar suara sang malam sendiri, berbicara dengan hatiku.

Aku ingin kesunyian...
Kesunyian yang sama yang kualami malam tadi ketika aku berjalan menuju tempat tinggalku. Membiarkan telingaku terbebas dari suara musik yang biasanya akan menemani jalanku.
Dan hanya terdengar olehku suara angin malam dan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di sekitarku...
Suara tetes-tetes air hujan yang membasahi seluruh tubuhku...
Suara hak sepatuku yang terdengar tiap kali aku melangkahkan kakiku di atas aspal...
Dan suara hatiku...yang menjerit tertahan...saat ia tengah hancur remuk terenggutkan hingga serupa dengan seribu serpihan kaca