Showing posts with label bipolar in me. Show all posts
Showing posts with label bipolar in me. Show all posts

the diary of March 19th, 2010

Hari ini musuh terbesar sekaligus sahabat terbaik ku datang mengunjungi ku. Bipolar. Sepulang kerja aku nyaris menghancurkan dan merusak tiap hal dan benda yang ada di hadapan ku. Ingin mengamuk. Ingin berteriak. Ingin menangis. Ingin tertawa. Semua bercampur aduk.

Dan yang ku lakukan adalah menelepon mu.

Suara mu langsung meredakan mania yang sedang ku hadapi dan dengan seketika aku hanya menghela nafas panjang untuk meredakan sisa-sisa mania yang masih membuat dahi ku berkerut.
Bahkan hingga detik ini aku hanya menghela nafas dengan tenang meski menghadapi hal-hal kecil yang seharusnya bisa memicu mania itu kembali. Karena si Bipolar yang cantik itu belum pergi.

Ternyata kamu sama ampuhnya dengan beberapa butir Lithium.

Jadi ingat tulisanmu di Twitter sore tadi....
“Hal yang sulit dilakukan ketika bahagia adalah mengeluh“.


--written on March 19th, 2010 at precisely 11.40 PM --

My Breakdown - Their Breakdown - Our Gift

Beberapa waktu yang lalu gue pernah nulis soal sebuah hal yang gue alami semenjak sekolah dulu dan membentuk gue jadi diri gue sekarang ini......Bipolar Disorder.....

Semenjak tulisan itu gue buat dan gue terbitkan di blog gue, hingga sekarang, ada banyak orang yang akhirnya mengontak gue baik lewat blog ini maupun lewat email. Mereka banyak bertanya lebih lanjut soal gejala bipolar yang gue alami, seperti apa dan bagaimana proses gue ketika mempelajari hal itu. Ada juga yang malah berbagi cerita, ato bahkan minta kontak dari ahli jiwa yang gue temui saat itu (hal ini yang agak ribet karena tu orang gak ngasi tau lokasi persis dia ada dimana sementara si ahli jiwa kan ada di kota Solo). Dengan banyaknya feedback yang gue dapet dari orang-orang yang mostly gak gue kenal ini, timbul keinginan gue untuk menulis lagi, sekalian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang gak bisa gue jawab satu-satu. Sekalian juga, ibarat sambil menyelam minum air, gue meneliti beberapa kasus bipolar ini terutama untuk ngebandingin sama apa yang gue alamin, dengan maksud untuk sedikit menjelaskan....kenapa gue memilih untuk tidak memerangi bipolar yang gue alami, melainkan mencoba untuk bersahabat dengan si bipolar ini.
Di tulisan pertama gue ini gue akan coba ngejelasin itu dulu deh ya....

okay, here goes...
Bipolar disorder....penjelasan nya udah gue tulis sebelumnya di sini. Hal ini gue alami pada pertengahan tahun 90 -an. Bagaimana gue bisa ngerasa? Begini ceritanya....gue, yang sedang mengalami proses pertumbuhan pada tahun-tahun itu merasakan bahwa ada yang beda di dalam diri gue. Ketika gue sedang duduk di pendidikan Sekolah Dasar, gue merupakan sosok yang sangat amat pendiam sekali, dan cenderung punya rasa takut untuk berbicara dengan orang lain, meskipun orang itu adalah orang yang sudah gue kenal sebelumnya. Ada kecenderungan untuk malas bergaul dan menutup diri, meski pada kelas 5 SD gue ingat sekali pernah berjualan kartu2 koleksi di antara teman2 gue...hehehehe (nyombong dikit deh *sori OOT). Tapi pada usia2 itu, gue mempunyai sisi lain yang sangat bertolak belakang dengan apa yang tampak di mata orang sekitar gue....yaitu sisi dimana gue adalah anak yang sangat pemberontak. Gue adalah anak kecil yang begitu keras kepala, mudah emosi dan gak jarang malah cenderung kasar dan gak sabaran. Sering ketika emosi gue naik gue akan berteriak dengan berlebihan atau melempar dan merusak barang2 di sekitar gue, dan sering juga malah agak memaksakan kehendak gue kepada orang2 ketika gue lagi 'in the mood to'. Dan pada usia ini pula, gue memiliki sebuah pikiran yang mungkin....sangat mungkin....gak akan ada di dalam pikiran seorang anak muda belia yang umurnya baru juga memasuki era dua angka....yaitu ketika gue memilih untuk hidup sebagai seorang Atheis.
Gue menolak untuk belajar Agama, menolak untuk beribadah, menolak untuk percaya....
Hal ini beserta kepribadian gue yang berlipat ganda terbawa hingga gue memasuki bangku SMP dengan seragam putih biru, di masa dimana gue mengalami emotional breakdown gue pertama kali yang mengakibatkan ada nya beberapa pihak yang menyatakan gue mengalami depresi berat. Pada usia ini gue semakin tertutup, walau sudah mempunyai beberapa teman. Dan sisi gelap gue makin menguasai...di mana gue begitu mudah untuk berpikiran buruk dan membenci bahkan menyumpahi orang, dimana gue akan mudah menyerah, dimana gue memiliki banyak sekali pikiran dan bahkan ulah perbuatan gue yang gue lakuin dengan tujuan untuk mengakhiri hidup gue sendiri. Tapi gue bersyukur bahwa gue ternyata 'tidak benar2 sendirian', karena ada beberapa orang yang menjadi malaikat pelindung gue yang bisa menghentikan tiap usaha nekad gue itu....seperti seorang teman sejak SD yang menangkap gue ketika gue menjatuhkan diri gue di tangga sekolah, guru yang memergoki gue memecahkan kaca di toilet untuk kemudian pecahannya gue pakai untuk melukai tangan dan wajah gue, dan lain sebagainya.

Pada saat breakdown gue ini gue menemukan salah satu obat gue, ketika gue bertemu dengan beberapa teman yang memperkenalkan gue pada sebuah dunia yang ternyata pada akhirnya menyelamatkan hidup gue dan memberikan gue semangat yang baru. Soal ini akan gue jelaskan di tulisan berikutnya aja ya....tapi intinya sih, 'dunia' dan 'hal' baru ini benar2 mengubah gue, sehingga secara perlahan gue mulai melepaskan diri dari belenggu ke-depresi-an gue dan dunia kegelapan gue. Gue akhirnya mempunyai sebuah kegiatan yang gue cintai dengan segenap jiwa raga gue hingga detik ini, mempunyai kecintaan akan sebuah kebiasaan yang gak bisa gue lepaskan dari diri gue, dan mempunyai semangat untuk mempelajari lebih dalam akan dua hal, yaitu hidup dan agama.

Memasuki bangku SMA, gue masih terlindungi oleh sahabat2 gue dan 'dunia' gue...sehingga perlahan depresi ini gak begitu mengikat. Meski begitu, gue masih banyak mengalami situasi dimana seakan pikiran dan jiwa gue mampu di-nyala mati-kan oleh sebuah saklar yang akibatnya emosi gue mudah berubah dalam sesaat. Perubahan emosi ini cukup dapat dipahami oleh teman2 gue, dan guru2 gue bisa memahami rasa malas yang gue miliki untuk belajar, sehingga mereka jarang kaget ngeliat gue berkeliaran di luar kelas pada saat pelajaran berlangsung...gak bisa protes juga mungkin, karena bagaimanapun malas nya gue, toh prestasi dan nilai2 gue di sekolah tetap bisa diakui dan diterima...di masa inilah ketika gue mulai kembali 'beragama'.
Lepas dari SMA gue gagal (atau tepatnya menggagalkan diri) untuk langsung masuk ke perguruan tinggi negeri, ketika gue mengumpulkan lembar jawaban yang 'bersih' pada hari pertama SPMB, semua karena rasa penat yang gue miliki hingga gue malas untuk belajar lagi. Dan akhirnya gue pun menjalani masa kuliah di perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan yang gue jalani satu tahun dengan nilai yang nyaris sempurna di kedua semester (di kedua semester ini IP semester gue mencapai grade A).
Tahun 2002 gue mulai kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Solo....dan pada masa ini lah, bipolar kembali menguasai.

Entah apa penyebabnya....tapi kemungkinan karena gue berada di kota asing yang jauh dari pelindung2 gue tadi, harus berkenalan lagi dengan situasi yang baru dan masalah2 yang baru...yang jauh lebih berat dari apa yang banyak gue hadapi sebelumnya di masa sekolah...
Tapi justru di kota yang tenang ini, gue memiliki sebuah jalan untuk bisa paham soal apa yang sebenarnya gue alami....di kota inilah gue berkenalan dengan bipolar dan bersahabat dengannya.

Kisah gue ketika berkenalan dengan bipolar udah gue ceritain sebelumnya....sekarang sepotong cerita bagaimana gue bisa bersahabat dengan hal ini (gue gak pernah bisa bilang atau menyebut bipolar sebagai 'penyakit'...karena gue gak ngerasa 'sakit')

Selama menjadi seorang mahasiswi arsitektur di kota ini, gue terlibat di beberapa kegiatan, dan banyak diantaranya di dunia seni. Dan tanpa gue sadari....bipolar....segala kekacauan emosi yang gue alami dengan segala kegelapan yang muncul karenanya...banyak sekali membantu gue dalam bidang ini. Gue mendapati diri gue bisa menjadi begitu kreatif, banyak bahkan ribuan ide terkumpul di benak gue yang hanya menunggu waktu untuk bisa di'tumpah'kan ke dunia nyata. Gue sering disebut sebagai 'orang gila' atas karya2 gue yang cenderung nekad dan berani dan mendapat banyak pujian karenanya...dan gue pun akhirnya justru memiliki semangat yang baru untuk terus mengembangkan apa yang gue miliki.
Semula gue pikir semua ini diakibatkan oleh pengobatan yang gue jalani, namun sebaliknya...gue kadang bisa cenderung kreatif bahkan pada saat2 dimana gue tidak mengkonsumsi obat2an yang diberikan oleh ahli jiwa yang menjaga gue. Secara detail hal ini akan gue jelasin di tulisan kedua gue....

Anyway, hal ini agak mendorong gue untuk mempelajari kenapa bipolar bisa mendorong adanya pikiran kreatif. Dan ternyata gue menemukan banyak kasus soal ini...
Miss Wiki pernah bilang : "....While the disorder affects people differently, individuals with bipolar disorder tend to be much more outgoing and daring than individuals without bipolar disorder. The disorder is also found in a large number of people involved in the arts. It is an ongoing study as to why many creative geniuses had bipolar disorder."
Mendapat 'sedikit' pencerahan dari hal ini....gue semakin yakin bahwa memang kreatifitas dan bipolar bisa berjalan sejalan...dan memang semenjak masa SMA hingga kuliah hingga sekarang, gue berubah menjadi orang yang lebih terbuka dan banyak bicara, tidak lagi menutup dan mengunci diri seperti dulu.

Sebagai contoh kasus, gue menemukan bahwa ada orang2 yang cukup dikenal dunia yang mengalami hal yang sama....tapi di tulisan ini gue ulas cuma dua aja ya....hehehehe
Dua orang ini adalah idola gue, yang satu inspirasi gue semasa SMP dan satunya inspirasi gue saat ini. Keduanya mengalami breakdown yang cukup menghancurkan hidup mereka, tapi masing2 memiliki hasil dan jalan keluar yang berbeda satu sama lain. Ketika yang satu berhadapan dengan kematian, yang lain justru bangkit dan mulai meraih hidupnya kembali.

Idola pertama gue....
Mr. Kurt Cobain!

Pemusik yang menjadi salah satu inspirasi gue sejak SMP. Terkenal sebagai dedengkot dari sebuah grup musik bernama Nirvana, yang dulu pernah menghasilkan banyak hits seperti Smells Like Teen Spirit, About A Girl, Heart-Shaped Box, dll...Dengan segala kegelapan Cobain di masa hidupnya, dengan segala imajinasi liarnya yang menguasai dan dia gabungkan dengan kisah kehidupan nyatanya (atau bahkan ada beberapa bagian yang dia pakai untuk menggantikan cerita hidup dia sendiri), Cobain menghasilkan hits2 tersebut dan membuat namanya cukup dikenal. Dia juga dulu dikenal sebagai sosok pemberontak dan mempunyai emosi yang mudah berubah. Cobain bahkan pernah mengkonsumsi Lithium sebagai obat penenang semasa hidupnya, meski mengalami juga efek samping berupa muntah2 darah dan air (efek samping yang juga pernah gue alami sendiri).
Dengan segala hal tentang Cobain tadi, beliau sering diindikasikan memiliki Bipolar Disorder yang menguasai hidupnya sehingga dia pun sering berubah sikap dan pikiran akan banyak hal dan mudah depresi. Hal ini yang memicu hingga dia memilih bunuh diri di masa kejayaannya, yang disebabkan akan segala paranoia yang dia miliki di masa itu. Namun gak bisa dipungkiri juga kan, Nirvana menjadi legenda atas kejeniusannya bermusik dan berkata2 semasa hidup. Gue yakin, hal itu didukung oleh bipolar yang dia hadapi saat itu....Cobain bahkan menulis lagu berjudul Lithium, yang liriknya sedikit banyak menggambarkan soal bipolar dan pengobatan yang dia jalani.

I'm so happy.
Cause today I found my friends.
They're in my head.
I'm so ugly.
But that's ok.
'Cause so are you.
We've broke our mirrors.
Sunday morning.
Is everyday for all I care.
And I'm not scared.
Light my candles.
In a daze cause I've found god.

I'm so lonely.
cause today I shaved my head.
And I'm not sad, and just maybe I'm to blame for all I've heard.
And I'm not sure.
I'm so excited.
I can't wait to meet you there.
And I don't care.
I'm so horny.
But that's ok.
My will is good.

I like it.
I'm not gonna crack.
I miss you.
I'm not gonna crack.
I love you.
I'm not gonna crack.
I kill you.
I'm not gonna crack.

I'm so happy.
Cause today I found my friends.
They're in my head.
I'm so ugly.
But that's ok.
'Cause so are you.
We've broke our mirrors.
Sunday morning.
Is everyday for all I care.
And I'm not scared.
Light my candles.
In a daze cause I've found god.
(Lithium - Nirvana)



Idola kedua gue...
Ms. Britney Spears!


Siapa sih yang gak kenal sama nona satu ini?Di awal kemunculannya sebagai penyanyi musik pop Miss Spears menjadi icon idola masa itu, dimana kemudian bermunculan banyak penyanyi remaja perempuan dengan tubuh langsing, rambut pirang dan dengan image "America's favorite teen princess" yang gayanya selalu dibuat imut dan polos. Miss Spears selalu dipandang sebagai panutan remaja masa itu (termasuk gue sendiri) dengan gaya pakaian dan image "nice girl"nya, di usia yang begitu muda. Tapi seiring waktu kehidupan pribadi Miss Spears mulai disorot media massa, dan bermunculan lah berbagai tindak laku si nona mungil ini yang banyak mengagetkan dunia.
Analisa gue, kekacauan hidup Miss Spears diawali ketika dia putus hubungan dengan penyanyi bernama Mr. Timberlake, dan saat itulah....kehidupan Miss Spears seolah naik turun secara drastis, bahkan banyak sekali pilihan hidup nona ini yang menyebabkan hidup dan karirnya nyaris hancur. Tapi breakdown yang dialami Miss Spears yang terekam di benak dunia mungkin adalah saat pernikahannya hancur dan dia nyaris kehilangan kedua anaknya. Siapa yang bisa lupa akan tingkah laku nona ini ketika dia dengan histeris menahan anaknya di rumahnya, atau ketika dia memasuki sebuah salon untuk mencukur habis rambut pirangnya, atau bahkan ketika dia memukuli mobil paparazzi yang mengikuti nya?
Kehidupan Miss Spears sempat tampak begitu gelap, menakutkan...dan banyak orang yang mulai meramalkan kapan hidupnya akan berakhir disebabkan oleh mental breakdown nya yang gak juga tampak mereda setelah beberapa waktu. Tapi kemudian, boom!!! She's back setelah rehabilitasi dengan karya yang menantang dunia dengan pernyataan : "You'll have to remove me...cuz I ain't going nowhere"

Tapi salah satu lagu kesukaan gue adalah lagu beliau yang sedikit banyak bercerita soal hidupnya.

I'm Miss American Dream since I was 17
Don't matter if I step on the scene
Or sneak away to the Philippines
They're still gonna put pictures of my derriere in the magazine
You want a piece of me?
You want a piece of me...

I'm Miss bad media karma
Another day another drama
Guess I can't see the harm
In working and being a mama
And with a kid on my arm
I'm still an exceptional earner
And you want a piece of me

I'm Mrs. Lifestyles of the rich and famous
(You want a piece of me)
I'm Mrs. Oh my God that Britney's Shameless
(You want a piece of me)
I'm Mrs. Extra! Extra! this just in
(You want a piece of me)
I'm Mrs. she's too big now she's too thin
(You want a piece of me)

I'm Mrs. 'You want a piece of me?'
Tryin' and pissin' me off
Well get in line with the paparazzi
Who's flippin' me off
Hopin' I'll resort to some havoc
And end up settlin' in court
Now are you sure you want a piece of me? (you want a piece of me)
I'm Mrs. 'Most likely to get on the TV for strippin' on the streets'
When getting the groceries, no, for real..
Are you kidding me?
No wonder there's panic in this industry
I mean please...
Do you want a piece of me?
(Piece of me - Britney Spears)


Anyway...
Inti tulisan gue kali ini sih simpel sebenarnya. Bukan bahwa gue mau membandingkan diri gue dengan selebritis atau semacam itu. Tapi bahwa Bipolar Disorder yang 'hampir' menguasai hidup gue bukan gue anggap sebagai gangguan atau penyakit atau hambatan dalam gue untuk hidup dan mengembangkan diri.

My Bipolar...is a gift.
A blessing...
karena memang hal ini yang membentuk diri gue seperti sekarang ini.
Karena itu...
gue bersyukur memiliki kelainan yang unik di diri gue ini

Bipolar Disorder

Bipolar disorder is not a single disorder, but a category of mood disorders defined by the presence of one or more episodes of abnormally elevated mood, clinically referred to as mania. Individuals who experience manic episodes also commonly experience depressive episodes or symptoms, or mixed episodes in which features of both mania and depression are present. These episodes are normally separated by periods of normal mood, but in some patients, depression and mania may rapidly alternate, known as rapid cycling. Extreme manic episodes can sometimes lead to psychotic symptoms such as delusions and hallucinations. The disorder has been subdivided into bipolar I, bipolar II, Bipolar NOS, and cyclothymia based on the type and severity of mood episodes experienced.

Also called bipolar affective disorder until recently, the current name is of fairly recent origin and refers to the cycling between high and low episodes; it has replaced the older term manic-depressive illness coined by Emil Kraepelin (1856-1926) in the late nineteenth century. The new term is designed to be neutral, to avoid the stigma in the non-mental health community that comes from conflating "manic" and "depression."

Onset of symptoms generally occurs in young adulthood. Diagnosis is based on the person's self-reported experiences, as well as observed behavior. Episodes of illness are associated with distress and disruption, and a relatively high risk of suicide. Studies suggest that genetics, early environment, neurobiology, and psychological and social processes are important contributory factors. Psychiatric research is focused on the role of neurobiology, but a clear organic cause has not been found. Bipolar disorder is usually treated with medications and/or therapy or counseling. The mainstay of medication are a number of drugs termed 'mood stabilizers', in particular lithium and sodium valproate; these are a group of unrelated medications used to prevent relapses of further episodes. Antipsychotic medications, sometimes called neuroleptics, in particular olanzapine, are used in the treatment of manic episodes and in maintenance. The benefits of using antidepressants in depressive episodes is unclear. In serious cases where there is risk to self and others involuntary hospitalization may be necessary; these generally involve severe manic episodes with dangerous behaviour or depressive episodes with suicidal ideation. Hospital stays are less frequent and for shorter periods than they were in previous years.

Some studies have suggested a significant correlation between creativity and bipolar disorder. However, the relationship between the disorder and creativity is still very unclear. One study indicated increased striving for, and sometimes attaining, goals and achievements. While the disorder affects people differently, individuals with bipolar disorder tend to be much more outgoing and daring than individuals without bipolar disorder. The disorder is also found in a large number of people involved in the arts. It is an ongoing study as to why many creative geniuses had bipolar disorder. (Sumber: Wikipedia Encyclopedia)(1)


Udah lama sebenernya gue pgn nulis soal ini. Bipolar Disorder…udh prnah denger? Sebuah gejala kelainan yang dialami beberapa manusia, tingkatan nya sedikit di atas Depresi dan jauh di atas Stres, dengan gejala yang disebut Manic(2). Kenapa gue nulis soal ini? Well, here’s the story…

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu pada masa sekolah gue pernah didiagnosa memiliki gejala depresi(3). Di saat itu gue cuma tersenyum dan bilang, “that’s bullshit”. Dan akhirnya menolak pemeriksaan lebih lanjut. Depresi itu akhirnya ga terlalu gue rasain, sampai akhirnya beberapa tahun kemudian – di masa kuliah gue – gue akhirnya memeriksakan diri atas saran seorang teman kuliah gue. Lagi-lagi, gue dibilang mengalami depresi. Tapi kali ini, gue akhirnya mau duduk di satu ruang bersama seorang ahli yang pada saat itu malah jadi ikut mengalami gejala gangguan jiwa setelah ngobrol sama gue, dengan jadwal sesi 2-3 kali seminggu masing-masing 2-3 jam. Sang ahli ini terus-terusan bilang gue depresi, tapi ga bisa bilang apakah gue bener-bener sakit ato “sakit”. Yang pasti ga ada seorang pun diantara kami yang bisa benar-benar menjelaskan apa penyebab sikap gue yang ga bisa tenang tapi juga terkadang justru terlalu tenang, apa penyebab ke’gelisah’an gue, apa penyebab pikiran gue yang sering tiba-tiba melayang ke tempat-tempat ga penting yang mengakibatkan gue ga bisa konsentrasi, apa penyebab kebiasaan gue yang meracau tiba-tiba tapi kemudian bisa diam sampai berhari-hari, apa penyebab gue yang seakan punya gejala schizophrenia(4) tapi sadar sepenuhnya untuk bisa membedakan mana yang imajinasi dan mana yang kehidupan nyata….dan terutama adalah, apa penyebab kekacauan emosional gue. Sang ahli ini akhirnya cuma bisa menggantikan minuman-minuman beralkohol yang gue konsumsi sejak masa sekolah dengan obat-obat dengan nama-nama keren – dari Vallium, Prozac, hingga Lithium –untuk bisa menenangkan gue. Terutama supaya gue bisa tidur di malam hari, karena di masa-masa depresi gue (termasuk ketika masa kuliah), gue nyaris ga pernah bisa menutup mata di malam hari(5). Walaupun….yah, namanya juga mahasiswa arsitektur. Klo malam ya ga gue minum dunk, bisa ga kelar atuh tugas2 gue…ya ga? Tapi tetep, obat-obat ini selalu ada di kantong gue ato at least ada di dalam tas. Siapa tau tiba-tiba gue dapet serangan adrenalin rush yang membuat gue tiba-tiba punya rage yang begitu tinggi seperti ketika satu kali gue pernah mengejar orang habis-habisan gara2 dia nyipratin air genangan ke mobil yang gue naikin bareng temen sekontrakan gue. Atau ketika gue tiba-tiba memukul cermin di hadapan gue tanpa alasan yang jelas, bahkan sampe sekarang pun gue ga bisa inget sebenernya gue kenapa waktu itu. Atau seperti ketika satu kali gue ngelempar stick drum gue dari atas panggung ke muka salah satu penonton yang teriak-teriak manggil-manggil gue dengan bahasa yang bikin emosi banget, bahkan nyaris lompat dari atas panggung untuk nerkam tu orang…tapi dunia beruntung punya seorang Aryo yang badannya cukup kuat untuk nahan gue waktu itu, heuheuheu^^

Bertahun-tahun gue dan sang ahli, beserta teman-teman gue yang tau soal ini, ga bisa nemuin jawaban soal apa sebenernya yang salah sama gue. Karena itu mulai beberapa waktu yang lalu, gue melepaskan diri dari obat-obatan ga penting yang ga terlalu ngebantu itu (terakhir gue mengkonsumsi Vallium), dan kembali beralih ke alkohol, untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya satu ketika….di satu hari ketika gue dan keempat temen kontrakan gue di Solo duduk bareng di depan TV, nonton The Oprah Show dimana jawaban itu ada. Tema saat itu membahas seorang wanita yang membunuh anaknya dan dihukum penjara entah berapa puluh tahun (maaf, gue lupa), dan didiagnosa memiliki kelainan jiwa. Ketika di penjara dan seorang psikiater diberi kesempatan dan waktu khusus untuk meneliti dan mengamati wanita ini, si psikiater menyebut istilah Bipolar Disorder untuk mendefinisikan apa yang dialami si wanita, yang ngakunya sering gelisah dan panik tanpa sebab, emosi-emosi yang tiba-tiba berubah, halusinasi-halusinasi yang nyaris nyata, bahkan amnesia singkat. Dan kemudian, keempat teman gue tersebut spontan menoleh ke arah gue. Bahkan Leny, salah satunya bilang, “hey, that’s you, honey….”, smentara gue cuma tersenyum dan bilang, “…damn. Thank you, Oprah”.

Sehari setelah itu, gue dan keempat teman gue menemui sang ahli yang udah bertahun-tahun berusaha meneliti sekaligus menemani gue menghadapi kegelisahan gue. Dengan membawa laptop Amey, dan mengajak beliau untuk browsing bareng di internet untuk mempelajari hal ini. Sedikit bersyukur juga sih, karena salah satu teman gue tadi adalah mahasiswi Psikologi di salah satu kampus di Solo, jadi dia bisa berkomunikasi dengan lebih baik ke sang ahli yang waktu itu shock berat karena baru kali itu gue dateng bawa teman, dan langsung satu rumah pula gue bawa, heuheuheuh….

Anyway, kami berenam pun akhirnya menyimpulkan, bahwa memang apa yang gue alami adalah sesuai dengan definisi di atas. Bipolar disorder…..hal ini sebenarnya belum gue komunikasikan dengan orang tua gue. Gak penting, mereka juga sama sekali ga tau soal segala kegiatan dan proses gue menemui ahli jiwa juga kok, hohohohoh. Setidaknya kami tahu apa yang salah ma gue dan gimana cara memperbaikinya, walopun gue masih menolak obat-obatan macam apapun untuk menenangkan diri gue. Sementara ini masih aman kok, daripada gue kelak jadi punya kecenderungan untuk menenggak habis obat yang gue kantongin ketika mengalami panik dan emosi berlebihan, jadi ya ntar aja kali ye berobatnya. Hahahaha…dengan mendapat jawab ini aja gue udah merasakan kebebasan kok. Seakan baru aja menemukan sepotong bagian puzzle dari diri gue yang ilang. Sekarang tinggal nyari potongan-potongan lainnya. Karena mungkin dengan begitu, gue justru ga akan butuh mengkonsumsi minuman atau obat apapun. Siapa tau, ya kan??


(1) versi terjemahan ada di sini

(2) diartiin biasanya dengan sejenis mania atau kepanikan tingkat tinggi, dimana si manusia yang mengalami Manic ini biasanya bakal mengalami serangan adrenalin yang bisa ningkatin kepanikan mereka secara berlebihan

(3) gue lupa itu taun berapa…yg pasti masi pake rok biru dan kawat gigi, heuheuheu

(4) ini sindrom kelainan dimana penderita mengalami halusinasi yang bagi dia bener-bener nyata, dimana ga bisa bedain antara halusinasi dan kenyataan. Penjelasan lebih lengkap ada lah di miss Wiki, kapan-kapan gue cariin klo emang pada mo tau. Ato cari sndiri mgkn lbh baik??heuheu…dasar org males

(5) ini disebut Insomnia, istilah yang cukup diketahui orang kebanyakan, ga perlu jadi ahli untuk tahu

*klo biasanya gue menyebut teman-teman gue dalam tulisan gue dan me-link-kan mereka ke profile mereka supaya pembaca bisa lihat seperti apa sosok dan bentukan teman-teman gue itu, kali ini ga dulu y…heuheuheu