Have You Ever...?

Have you ever love someone or something
So deep
So bad
That it hurts you…deep inside your heart
Whether they are close or far away
It hurts just for loving them
Just to care
Just to have the desire
And for having their name carved deeply inside your heart

Have you ever want something so bad
That it makes you weak
When you realize that your hands aren’t able to reach them
To touch them
To feel them
And you feel hopeless knowing that it’s so far away in your dreams

Have you ever wish for something so bad
That you cry
Everytime you lift your hands to pray for it
When you ask God to bring you closer
And your tears fall
And your heart breaks
When you wish for it

Have you ever miss someone or something
So deeply
That it hurts you
When you can’t hear their voice
When you can’t see them
When they don’t answer you
Even when you call their name so hard with all of your strength

Have you ever feel so hurt
Just by saying someone’s name

I do

***

Untuk kamu...
(DeeWardani-141006)

-DARK-

Sekali lagi aku menutup mata dan menatap dalam kegelapan….dan kudapati sosok dirimu berdiri di ujung sana, jauh di hadapanku…tak terjangkau dan tak mampu kudekati…dan masih menolak untuk kusentuh

Lalu ketika aku masih menatapmu aku merasakan hadirnya sosok lain yang menanti jauh di balik punggungku…menatapku dengan senyum pada tatapan matanya yang tajam,
tapi tak juga mendekat padaku…

Dan aku berdiri di tengah kegelapan tanpa mampu melangkah ke manapun…tanpa ada hasrat untuk meninggalkan tempatku berdiri kini, bukan lemah namun hanya terlalu hampa untuk mampu menarik nafasku dan menarik tubuhku pergi

Lalu aku menutup mata sekali lagi…dan di sudut mata kulihat cahaya muncul di kejauhan di tengah kegelapan itu, namun bukan di depanku dan bukan pula di balik punggungku…memanggilku…dan dengan hati dan jiwa yang hampa kupaksa kakiku melangkah mendekati cahaya itu
Namun seberapa kuatnya aku berusaha, berapa jauh aku melangkah, dan seberapa lama aku mencoba, cahaya itu tetap saja terlalu sulit untuk kuhampiri…tak mampu tersentuh oleh hati, pikiran, jiwa dan bahkan raga…
lalu aku berhenti

Aku berhenti melangkah dan menyadari cahaya itu masih saja menjauh…semakin jauh…dan aku kembali di titik awal tempatku berdiri, menyadari kebimbangan yang sama muncul kembali
dengan sosok dirimu dan dirinya tetap berada di tempat yang sama…

Kemudian dengan jiwa yang masih hampa aku perlahan berbalik arah, menjauh dari cahaya yang masih memanggil namaku, meninggalkan sosok dirimu dan dirinya yang masih berdiri di tengah kegelapan…dan aku melangkah ke dalam kegelapan yang semakin pekat, semakin mengikat, hingga aku pun menyatu di dalamnya…lagi

DeeWardani- 061006

MALAM

Photobucket - Video and Image Hosting

Malam kembali datang menjemputku.seperti biasa ia tak rela melepasku, membiarkan aku tenggelam dalam gelapnya, tanpa mengijinkan aku menikmati mimpi indah untuk menemani sedihku malam ini
Malam, seperti biasa memberiku hanya kegelapan, menemani walau aku masih merasa sepi.menenggelamkan aku lebih dalam menuju kesepian tiada akhir, yang memberi hati ini rasa yang tak lain merupakan rasa takut bahwa malam akan pergi dan membiarkan sepi ini membawaku pergi

Kenapa malam begitu indah dalam sosoknya yang begitu menakutkan.dan kenapa malam begitu memabukkanku, membiarkan aku tenggelam begitu jauh, hingga ketika aku hendak membuka mataku aku tetap tak mampu menghapus rasa sepi ini, meski aku tak sendiri
Malam, selalu memelukku begitu kuat, begitu ketat hingga aku tak pernah mampu melepaskan diri.kenapa malam begitu mencintaiku? Kenapa ia terus menahanku?

Malam ini sekali lagi aku membiarkan diriku tenggelam dalam sepi, dalam hasrat malam yang begitu dalam dan begitu kuat mengikatku.apakah kini aku mulai mencintai malam?
Malam ini sekali lagi aku menutup mata, berharap mimpi indah akan datang malam ini.tapi bukanlah mimpi indah yang datang, tetapi kenyataan yang terlalu menyakitkan yang membuatku terkadang tak mampu membuka mata di pagi hari
Malam ini sekali lagi menyesatkanku.membiarkan aku terlena dengan kegelapan yang begitu aman.kembali memberikanku rasa sepi, menemaniku dengan kehampaan yang dibawanya dengan penuh hati, untuk memenuhi hatiku sendiri dengan hampa yang membara dan membakar air mata yang terus menetes di pipi ini,membasahi tidak lagi wajah namun hati

Malam ini sekali lagi aku menulis tentang kehampaan hati, tentang rasa kesepian yang membakar tubuh ini perlahan-lahan ketika tengah terbawa mimpi.malam ini sekali lagi aku menulis tentang air mata yang entah kenapa belum juga berhenti mengalir dan belum juga kering
Malam ini sekali lagi aku menulis tentang kesepian.merasakannya begitu kuat tanpa mampu mempertanyakannya baik pada diri sendiri maupun pada orang lain yang menatapku dengan mata yang hampa yang tak mampu mengerti tentang rasa hampa ini
Tapi malam ini aku mencoba menutup mata meski tetap membiarkan telinga ini terbangun, membiarkan musik yang tengah mengalun perlahan tertutupi oleh suara-suara yang terbawa oleh gelap malam yang memasuki kamarku ini

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, membawa masuk suara-suara yang tak asing untuk kembali menemaniku dalam gelap kamar yang minim cahaya ini
Suara-suara yang hampir tiap saat tiap waktu selalu terdengar dari dalam hatiku dan selalu mencoba berbicara padaku melalui pikiranku ini.suara-suara yang menggambarkan soal kesepian, suara tangis dari hati-hati mereka yang juga membiarkan malam membawa pergi mimpi-mimpi indah mereka, suara rintihan dari mereka yang tak mampu menutup mata mereka malam ini tanpa merasakan hati mereka terbakar oleh air mata yang masih terus mengalir
Lalu aku mengerti.atas apa yang dibawa malam untukku malam ini...

Ia membawa mimpiku pergi sekedar membuatku mengerti, bahwa rasa sepi ini tidak hanya ada dalam hati yang merana ini, bahwa ada hati lain yang juga menangis seperti aku, bahwa malam tidak hanya menemaniku tapi juga jiwa yang lain yang membutuhkan teman
Namun malam tidak menjawab pertanyaanku.tentang bagaimana harus menghilangkan rasa sepi yang hampa dan membunuh ini, bagaimana harus menghilangkan rasa rindu yang membakar ini?

Malam, seperti biasanya hanya diam membisu, membiarkan pertanyaan demi pertanyaan kembali muncul, kembali menahan agar mata ini tidak tertutup, kembali membiarkan aku mencoba menjawabnya sendiri hingga pagi datang menjelang
Malam, seperti biasanya pergi dengan meninggalkan senyum, sebagai tanda bahwa ia akan kembali lagi.memberikan dingin yang sama, memberikan pelukan yang lebih erat, memberikan rasa sepi dan hampa yang lebih dalam
Dan aku seperti biasanya akan menanti datangnya malam, untuk merasakan kesepian dan kehampaan yang sama, untuk kembali berharap agar kali ini malam akan memberikan mimpi indah untukku, berharap bahwa malam akan memberikan kecupan hangat untuk tidurku.

Again...I cry...

Photobucket - Video and Image Hosting

Semalam mataku tertutup dengan air mata yang mengalir membasahi mata dan juga pipi dan seluruh wajah ini. Dan pagi ini aku terbangun dengan air mata yang mengalir dengan lebih deras lagi, memenuhi mata dan hati, membasahi wajah, pipi dan juga tubuh ini.

Kurasakan perlahan kegelapan menarikku semakin dalam...dan hati ini semakin keras menghukumku...kurasakan hati ini terpenuhi perasaan yang dulu kutakuti, dulu kuhindari, yang dulu selalu kubunuh bahkan ketika ia belum muncul dan menguasaiku...aku lengah dan membiarkannya tumbuh dan tumbuh dan tumbuh begitu besar dan menguasai jiwaku dan membalas untuk membunuhku
Semua ini adalah salahku...
.aku,aku,aku,aku,aku....aku

Jantungku kian terkikis dingin yang mencakar-cakar tubuh ini ketika gelap menutupi malam, hangat tubuh ini terasa kian jauh terambil oleh tangan-tangan kecil yang mengganggu mimpi indahku tiap malam...dan mata ini terbuka dengan rasa takut yang lebih dalam terhadap langit yang menyilaukan.

Sekarang kegelapan itu terasa begitu indah walaupun masih menyakitkan...kenapa kegelapan ini membiarkan aku melukai hati dan diriku sendiri? Kenapa? kenapa? kenapa? Kenapa kau biarkan gelap ini mengambilku...merenggutku dari diriku sendiri, memenuhi hati dan jiwaku dengan kesepian yang menakutkan tapi selalu menjadi teman terbaikku di kala malam, ketika tangan ini tak lagi memiliki pegangan yang kuat untuk menahanku.

Kenapa kegelapan yang begitu indah kini mengkhianatiku...kenapa langit seakan membakarku dengan sinar itu? Sinar yang dulu begitu indah di mataku? Kenapa air mata ini mengikisku dari dalam...menggerogotiku hingga tidak ada lagi yang tersisa dari diriku...dari jiwaku...dari hatiku...mengambil sedikit demi sedikit harapan yang ada dalam diri ini untuk hidup...semua ini salahku...
aku,aku,aku,aku,aku,aku,aku,aku....

Kapan waktu itu akan tiba...kenapa waktu yang kunanti tidak kunjung tiba....kenapa ’waktu’ yang selalu berputar selalu menakutiku, membuat diriku kisut di malam hari, membuatku takut...tapi kenapa ’waktu’ yang selalu kuhindari itu kini selalu kunantikan...

Kenapa kematian yang dulu di mataku begitu menakutkan bahkan olehku yang ada di dalam kegelapan kini terlihat begitu indah...kenapa kini aku menantikan jiwaku terenggut dari malam, bukan oleh cahaya yang diberikan langit namun oleh kegelapan itu sendiri?

Kenapa kau biarkan aku menghukum diriku sendiri....kenapa kau biarkan diriku sendiri mencoba membunuh aku, mengambil diriku sendiri dari gelap, membiarkan diriku tenggelam dalam mimpi yang indah dan juga menakutkan...kenapa tubuh ini menggigil hanya dengan menyebut namaku sendiri...hanya dengan menyebut namamu...apakah karena ini semua salahku?????
aku yang bersalah....aku,aku,aku,aku,aku,aku,aku,aku,aku..
.
selalu salahku.
..selalu aku yang bersalah....

Kenapa ini begitu sulit?
Kenapa aku masih menangis?
Kenapa hati ini tak mau mati?
Kenapa aku tak juga mati?


Rindu...Rindu...Rindu


Aahhh…
Aku merindukan sepi
Aku merindukan hati dan jiwaku
Aku merindukan mimpi yang mencekik dan mencekat
Tapi mampu menemaniku di waktu malam
Aku merindukan kegelapan

Aku merindukan kamu
Aku merindukan mereka
Aku merindukan diriku sendiri
Aku merindukan dunia
Aku merindukan rumah
Aku merindukan cinta

Aku merindukan Tuhan
Aku merindukan surga
Meski terbakar panas api neraka sekalipun
Aku masih merindukan surga
Aku merindukan hidup
Aku merindukan kematian

Aku merindukan aku
Aku yang dulu
Aku yang tidak percaya
Aku yang masih mampu bernafas
Bahkan menjelang kematianku sendiri
Aku yang masih mampu melangkah
Di atas ribuan jarum mematikan

Aku merindukan aku
Aku yang dulu
Yang menatap gelap seolah terang
Aku yang menangis tanpa suara
Tapi masih mampu tersenyum bangga
Aku yang mencakar tanah dengan tangan penuh darah
Tapi mampu menari indah di atasnya

Aku merindukan aku
Aku yang dulu
Sebelum aku mengenal kebahagiaan
Dan disakiti olehnya
Aku yang tersakiti

Dan hanya mampu menertawakan sakitku

Aku merindukan aku
Yang kini merindukan kamu