Tentang Cinta…

Banyak orang mempertanyakan akan adanya cinta
Banyak orang mempertanyakan artinya cinta
Banyak orang mencari dan menanti datangnya cinta
Banyak orang bahkan menyangsikan soal cinta
Sedangkan aku….
Terlalu banyak pertanyaan
Terlalu banyak untuk dipilah, dipilih dan dibedakan
Terlalu banyak untuk diucapkan

Banyak orang mengatakan…
cinta ada untuk memberi warna untuk hidup
Banyak orang bilang…
cinta memberi nafas untuk semua yang berjalan di bumi
Ada orang yang memberi alasan…
bahwa cinta ada di hati…
karena hati ingin belajar dan mengerti
bagaimana rasanya menyayangi orang lain
mengerti betapa indahnya
ketika hati terisi rasa saling membutuhkan dan saling menyayangi

Sedangkan untuk aku…
sesungguhnya arti cinta itu telah ada dalam hati
Dalam benak dan jiwa manusia bodoh ini
Tapi tak pernah ada kata-kata yang mampu menggambarkan semuanya
Tak pernah ada kertas yang cukup untuk menampung artinya
Dan aku tak pernah mampu…
untuk menyampaikannya

Ketika kita mencari arti cinta
Bahkan dalam kamus terpintar pun
tak akan ada cukup kata yang mampu untuk menggambarkannya
Ketika orang mencari cinta
Untuk mengerti bagaimana rasanya menyayangi
Mungkin sesungguhnya keinginan benar ada dalam hati ini
Namun hati ini tak sekedar memohon akan hal itu

Karena Aku butuh jawaban
Karena Aku butuh alasan
Mengenai arti keberadaanku di sini
Mengenai apa yang kulakukan disini
Alasan yang cukup kuat…agar aku dapat bertahan lebih lama lagi
Di tempat di mana aku berada kini

Aku mencari cinta…
tidak hanya untuk mengisi kekosongan hati
Tidak hanya untuk menghilangkan kesepian diri
Aku mencari cinta untuk menemukan kebenaran
Menemukan alasan mengapa aku tetap hidup
Bahkan ketika jiwaku hampir mati
Menemukan alasan untuk tetap bernafas…
untuk tetap menatap mentari pagi

Aku mempelajari cinta…
tidak hanya untuk belajar menyayangi
Tidak hanya agar hidup ini terwarnai
Aku belajar cinta untuk mendapatkan jangkar
Yang akan menahanku agar tidak berlayar terlalu jauh
Jangkar yang akan menahanku
Untuk tetap menginjak bumi
Untuk tetap melangkahkan kaki
…untuk tetap hidup

Aku mencari orang yang dapat aku cintai…
Bukan hanya sekedar mencari orang yang bisa menemani
Dan menghilangkan sepi
Tidak hanya sekedar mencari obat yang menghilangkan rasa sakit
Tidak hanya sekedar mencari orang yang mampu melindungi
Atau orang yang dapat meredam kemarahan hati
Aku membutuhkan saksi…
Orang yang akan menatapku dengan tatapan yang nyata
Orang yang menjadi saksi akan hidupku
Akan keberadaanku
Akan kisahku
Aku membutuhkan saksi…
Yang mampu membuktikan bahwa aku…
hidupku…
Dan semua yang ada di sekitarku
Adalah nyata

Aku tak pernah benar-benar sadar apakah aku mencari
Aku hanya tahu bahwa aku mempelajari
Namun langit dan bumi selalu menyesatkanku
Ketika aku mempelajari cinta…
Langit mengambilnya dariku
Ketika aku menemukan cinta…
Bumi menghalangiku

Ada bagian diriku yang mencari cinta
Karena ingin agar hidup ini punya arti
Agar kehadiranku di sini dinanti
Agar aku menjadi nyata…karena ada saksi

Tapi ada juga bagian diriku yang takut untuk mencari
Hanya karena aku tak mengerti
Dan mungkin aku tak akan pernah mengerti
Mengapa cinta yang kutemukan selalu lari
Justru ketika aku memutuskan untuk menetap dan tidak lari
Mereka yang pergi

Ada orang yang bilang…
Bahwa mereka yang menangis adalah mereka yang bisa menghargai arti hidup
Bisa menghargai orang-orang yang ada disekitar mereka
Bisa menghargai kebahagiaan yang mereka capai sendiri

Aku telah banyak menangis
Haruskah aku menghargai air mataku sendiri?
Tapi benar jika aku berkata…
Bahwa aku mencintai hidupku
Tak peduli betapa menyakitkannya
Bahwa aku menghargai orang-orang yang ada di sekitarku
Meski mereka tak pernah benar-benar peduli padaku
Bahwa aku menyayangi orang-orang yang ada di hatiku
Tanpa peduli apakah mereka benar tulus menyayangiku

Saat ini sebuah nama tertulis dengan jelas dalam hatiku
Terukir dengan indah pada dinding hatiku
Tapi bumi dengan kuat tetap menghalangi
Hingga hati ini malah perlahan membunuhku
Karena air mata yang tak mau tumpah
Terus memenuhi hati
Tapi hati ini justru tak mau lari
Aku tak mengerti

Lalu kembali aku mempertanyakan arti cinta
Seiring dengan pertanyaan yang muncul
Mengenai arti hadirnya diri ini di lembaran kisah ini
Karena hati ini lagi-lagi memilih untuk menjadi kosong
Dan lagi-lagi kehilangan alasan dan jangkar ku
Yang seharusnya menahanku…
Mengikatku untuk tetap berdiri di permukaan bumi

Kini justru banyak orang mempertanyakan aku
Atas apa yang ada dalam pikiranku
Apa yang ada dalam hatiku
Apa pandanganku….atas cinta
Dan lagi-lagi aku tak mampu menjawab
Karena aku masih belum dapat menemukan kata-kata yang pasti
Yang akan menggambarkan semuanya
Lagi-lagi aku tak mengerti
Karena di dalam pikiranku
Masih…banyak sekali pertanyaan tak terjawab
Yang tak akan mungkin terucapkan

Haruskah aku terus menanti…
Haruskah aku mulai mencari…
Atau sudah waktunya aku berhenti
Dan membiarkan aku sendiri yang pergi?



(DeeWardani, 220706, 01:07)

Pesan Untuk Sahabatku...

Sahabatku…
Seandainya kamu mengerti
Betapa rasa kesepian ini menghancurkan hati
Betapa kejam rasa rindu ini kurasakan membunuh diri ini
Karena ketidakhadiranmu saat ini

Sahabatku...
Tangan ini merindukan genggaman jemarimu
Yang dulu pernah menuntunku
Ketika aku tersesat
Ketika aku bimbang
Ketika hati dan jiwaku dipenuhi rasa takut akan dunia yang tidak mencintaiku

Sahabatku...
Pernahkah aku mengucap terima kasih
Karena kamulah yang mengajarkanku untuk percaya
Untuk mencintai
Bukan hanya untuk diri sendiri ataupun orang yang ada di sekitarku
Tetapi juga hidupku dan dunia
Yang selama ini selalu membenciku dan menyakitiku
Kamulah yang mewarnai hari-hari kelamku
Dengan cahaya dan warna terindahmu

Sahabatku...
Ingatkah kamu...
Kamu dulu pernah memeluk tubuhku erat hingga mentari pagi datang menjelang
Untuk melindungi hatiku yang merasa takut akan gelap malam
Kamu dulu yang pernah menyinariku
Untuk menuntunku kembali ke jalan terang
Supaya aku tahu bahwa aku tak sendirian
Kamu yang selalu menemaniku
Hingga aku merasa berani untuk melangkah tegap
Tak peduli betapa kejamnya dunia
Tak peduli akan sakitnya tiap-tiap langkah yang kuambil
Kamu yang memberikanku keberanian itu

Sahabatku...
Ingatkah kamu...
Kamu dulu yang menyaksikan diriku
Hancur bagaikan ribuan pecahan kaca yang terhempas di permukaan tanah
Dan kamulah yang dulu dengan sabar
Mengumpulkan tiap-tiap pecahan kaca itu dan menyatukannya kembali
Tanpa peduli betapa sakitnya kaca-kaca itu menyakiti jari-jarimu
Tanpa peduli betapa sulitnya
Hingga akupun kembali berdiri tegap dan kuat di hadapanmu

Sahabatku...
Ingatkah kamu...
Kamu yang dulu menyelamatkanku
Yang membersihkan dan menyembuhkan tiap-tiap luka di sekujur tubuhku
Yang menghapus tiap tetes air mata yang tertumpah di pipiku
Kamu yang kemudian mengajarkanku untuk selalu tersenyum
Dan kembali percaya kepada dunia yang tidak mencintaiku

Sahabatku...
Kini aku kembali tersesat
Hanya bisa menangisi kesendirianku
Menangisi kesepianku
Karena kamu tak lagi hadir di sini
Menemani
Melindungi
Menuntunku dengan jemari tanganmu yang dengan kuat menggenggam tanganku

Sahabatku...
Aku merindukanmu
Membutuhkanmu
Karena hanya kamu yang selama ini mengerti aku
Mampu menyelamatkanku
Mampu menemaniku
Mampu mempercayaiku

Sahabatku...
Air mata ini menetes deras ketika aku memanggil namamu
Karena dulu suara dan hadirmu selalu ada ketika aku membutuhkanmu
Dan kini suaraku tak lagi dapat kau dengar
Tangisku tak dapat lagi memanggilmu kembali

Sahabatku...
Kurasakan diriku mati
Tanpa kamu
Aku rindu kamu

Sahabatku...
Aku kesepian
Tanpa kamu

***

...for my bestfriend, my lover, my soulmate…
ARIE
Where ever you are…you will always be missed…I love u

(DeeWardani-300606)

menanti...

Hari berganti malam…aku masih disini
Menanti datangnya keajaiban
Yang tak mungkin
Malam berganti pagi…dan aku masih disini
Mengharap adanya cinta
Yang tak mungkin


( DeeWardani, 221205 )

- untuk seseorang -

aku terdiam di sini.
menatap mendung terbentang di langit.
menurutku dunia semakin semu.
aku melihat dirimu dimana-mana.
di langit.
di tanah.
di udara.
di air.
dunia sesak olehmu.
apakah aku begitu terobsesinya padamu?


untuk kedua kalinya aku menatap mendung.
semakin gelap.
semakin pekat.
wajahmu tenggelam disana.
dirimu semakin menjauh.
tak terjangkau oleh tanganku.


dan kemudian.
hujanpun turun.
wajahmu hilang ditelan silaunya halilintar.
kaupun sirna.
lalu.
aku masih terdiam.
di tempat yang sama.
sendiri.
menatap langit yang sama.


menunggu.
sampai mendung terganti pelangi.
berharap aku bisa melihat wajahmu lagi.
di sini.
di tempat ini.
di langit yang sama.

Surga Hati

Andai aku bisa
Aku ingin mengulang kembali waktu yang bergulir
Mengalami kembali segala kenangan indah yang terlewat
Menghirup kembali semua nafas yang terbuang
Merasakan kembali semua sentuhan yang telah hilang
Merangkup kembali semua air mata yang telah tumpah dan terurai
Hanya untuk merasakan kembali
Hangat hadirnya dirimu

***

Tiap malam datang sering aku bertanya
Adakah makna hadir-ku bagi hidup
Adakah makna hidup ini bagi ada-ku
Adakah makna sakit dan kesendirian ini bagi gelapku
Adakah makna dan arti semua ini
Karena tidak ada kejelasan dalam langkahku
Hanya gelap membayangi dalam jalanku
Di manakah terang?
Karena yang nampak hanyalah bayang
Hati ini butuh lilin…cahaya penerang
Hati ini butuh teman
Yang mampu merengkuh kala malam menjelang
Hati ini butuh teman…
Yang mampu menghangatkan kala dingin kembali menghadang
Aku terus menanti…
Hingga ia datang
***

Di kala malam datang aku masih bertanya
Adakah tanda bagiku ketika terang itu datang
Adakah aku mengenali cahaya itu
Atau akankah aku justru lari
Karena rasa ketakutan ini justru tumbuh
Seiring dengan tumbuhnya harapan akan sang cahaya
Karena aku telah terbiasa dengan gelap
Dan mulai merasa lebih aman berada di dalamnya
Takut…
Karena aku tak tahu apa yang akan terjadi
Karena aku tak tahu bagaimana bentuknya
Karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan
Ketika cahaya itu datang
Tapi aku tetap menanti….
Dan ia pun datang
***

Bimbang. Hati tak siap namun tak juga lari
Mungkin aku telah lelah berlari…
Sekian lama berusaha lepas dari bayang
Sehingga ketika cahayaku datang aku pun memilih untuk menetap
Memilih untuk tidak berpaling dan pergi
Karena cahaya yang ini tidak menakutkan
Dan justru menghangatkan
Karena aku merasa aman
Ketika berada di sampingnya
Dalam terang cahayanya
Namun aku tetap bimbang….
Dan ia pun berkata, ini bukan cinta
Kita hanya saling membutuhkan…
Maka akupun tinggal…
Dan ia tidak pergi
***

Bimbang. Hati kini siap namun masih ingin lari
Tapi aku telah lelah berlari…
Setelah sekian lama terbayangi gelap sepi
Sehingga untuk cahayaku aku pun memilih untuk menetap
Memilih untuk tidak berpaling dan pergi
Karena cahayanya masih sangat menghangatkan
Memabukkan…namun juga menenangkan
Karena aku merasa aman. Damai. Tenang.
Ketika berada dalam pelukannya
Dalam hangat cahayanya
Namun aku tetap bimbang….
Dan ia pun berkata, kita memang saling membutuhkan
Namun ini cinta…
Maka akupun tinggal…
Dan ia tidak pergi
***

Bimbang ini lenyap
Dan aku makin merasa membutuhkan
Makin merasa bahwa kami satu. Tak terpisahkan
Bahkan oleh waktu
Percaya bahwa genggaman tangannya takkan terlepaskan
Percaya bahwa terangnya hanya untukku
Dan bahkan bayangnya sekalipun takkan meninggalkanku
Hati ini akhirnya terbiasa dengan cahaya terangnya
Terbiasa akan kehangatannya
Begitu tenang. Damai. Hangat.
Yakinku bahwa hadirnya membawa surga di hatiku
Karena cahayanya menemani hadirku selalu
Ia pun percaya akan hadirku
Percaya bahwa akupun akan selalu memberi hangat bagi hadirnya
Percaya bahwa aku akan hadirkan senyum
Dan bahkan memberi warna bagi hadirnya
Percaya bahwa aku akan selalu menanti
Bahwa aku akan menetap dan tak pernah lari
Bahwa aku akan tinggal
Aku tetap tinggal…
Namun kemudian ia yang pergi
***

Bukan waktu yang mengambilnya dariku
Bukan hati yang berpaling
Dan bukan pula gelap yang merebutnya dari sisiku
Namun Tuhan…
Ia yang mengambilnya dari ku
Ia yang merebutnya dari sisiku
Ia yang menghapuskan cahaya itu dalam sekejap
Sehingga aku pun kembali dalam gelap
Tersesat. Tersakiti.
Hancur dalam sekejap bagaikan ribuan pecahan kaca terhempas di permukaan tanah
Kecewa. Bimbang.
Kehilangan pijakan karena cahayaku hilang meninggalkanku dalam gelap
Sempat aku ingin mengutuk Tuhan…
Karena Ia yang dulu telah memberikan cahaya itu padaku
Memberikanku kebahagiaan
Mengajarkan sang cahaya untuk memberikan surga untukku dalam hati ini
Namun dengan sekejap mata diambilnya cahaya itu
Dan kembali menenggelamkanku dalam gelap
Kembali menyesatkan langkahku
Kembali menghancurkan hatiku
***
Cahayaku hilang…
Genggaman tanganku terlepaskan. Hati ini terhancurkan.
Tanpa pijakan kuat aku terus berusaha berjalan melawan gelap
Tanpa mampu menahan air mata yang terus tumpah
Tanpa mampu menahan rasa rindu yang terus menusuk hati
Tanpa mampu menghapus wajah sang cahaya
Yang terus muncul dalam angan. Dalam mimpi.
Tangan ini masih terkepal…
Berusaha meraup kembali genggaman tangan hangat
Yang dalam hati masih terlalu berat untuk dilepaskan
Seluruh tubuh dan jiwaku masih merasa rindu
Masih bergetar mengingat tiap sentuhan yang telah diberikan
Masih mengingat pelukan erat yang dulu menghangatkan
Telinga ini masih mengingat suara lembut yang menenangkan
Menggetarkan hati ini dengan rindu
Hingga tetes air matapun kembali tumpah
Cintaku hilang…
Membawa hati dan keberanianku melawan gelap
Hingga aku kembali merasa takut
Untuk berjuang sendiri. Untuk melawan sepi.
Namun aku tetap tinggal
Didorong oleh rasa cinta dan kenangan
Akan cahaya terangku yang masih menghangatkan
***

Andai aku bisa
Aku ingin memohon dengan segenap jiwa raga
Izinkan aku menelepon ke surga
Agar aku dapat mendengar kembali suaramu
Agar aku dapat menyampaikan resah jiwaku yang kehilangan kamu
Agar aku dapat menyampaikan rasa rindu dan rasa sayang ini
Andai aku bisa
Aku ingin memohon dengan segenap jiwa raga
Izinkan aku mencari dimana letak surga itu berada
Agar aku dapat menemuimu
Agar aku dapat menatap wajahmu dan senyummu yang indah
Agar aku dapat sekali lagi merasakan sentuhanmu
Agar aku dapat sekali lagi mengecupmu
Agar aku dapat sekali lagi berada dalam pelukanmu
Agar aku dapat bersamamu
Izinkan aku menemukanmu
Hanya untuk merasakan kembali
Hangat hadirnya dirimu

***


…untuk kamu yang berada di surga

(DeeWardani – Februari2005)