The Bible of Barbecue — Tramontina from JWT Brasil on Vimeo.
melantur
Seperti bangkit dari mati suri. Akhir saya kembali membuka halaman demi halaman coretan tangan, kumpulan gambar dan potongan-potongan kenangan saya di blog ini.
Seperti halnya saya yang pernah berkata bahwa hidup adalah rollercoaster, hidup pun telah memberikan saya perjalanan yang penuh ombang-ambing dalam kurun waktu singkat selama saya berhenti menulis. Dan saat ini saya seperti kehilangan arah.
Pernah merasa memiliki sebuah tempat berteduh yang begitu nyaman hingga kamu lupa caranya menghindari perubahan cuaca yang selalu datang dan pergi tanpa peringatan? Atau memiliki sebuah tempat untuk berpegang sehingga ketika bumi terasa berayun kencang semua goncangan tidak berasa, dan ketika pegangan tangan itu lepas yang terasa hanyalah tubuh kita jatuh dan jatuh dan jatuh.
Saya bukan hanya seperti kehilangan arah, tapi juga seperti tersesat dalam langkah kaki saya sendiri. Dan yang saya rasakan hanyalah betapa jauhnya orang-orang berada saat ini sehingga saya tidak dapat lagi berteriak memohon pertolongan. Saya sudah tidak bisa lagi menangis karena tahu tidak akan ada lagi yang dapat mendengar.
Kata "takut" terdengar seperti an understatement. Saya bukan lagi merasa takut. Saya tidak lagi merasa. Hanya tersesat, dan tak tahu lagi harus mengarah ke mana.
Hidup memang mengejutkan. Tapi yang paling mengejutkan adalah ketika saya sadar bahwa bahkan ketika saya dalam sekian tahun selalu mengingatkan diri untuk bersiap akan hal apapun yang disodorkan kepada saya, tetap saja saya tidak siap untuk menghadapinya. Dan sekarang semua sudah terlambat.
Seandainya waktu bisa berputar balik. Seandainya saya bisa lebih bersiap diri. Seandainya ada yang bisa mendengar tanpa saya harus berbicara apapun dan memeluk saya tanpa bicara apapun. Seandainya saya bisa menghilangkan rasa kesepian yang menyakitkan ini. Seandainya menjadi dewasa tidak begitu terasa sepi. Mungkin suara di dalam kepala saya ini akan berhenti berteriak setiap saat dan saya bisa berpikir dengan lebih tenang untuk dapat menjalani semua. Mungkin.
Seperti halnya saya yang pernah berkata bahwa hidup adalah rollercoaster, hidup pun telah memberikan saya perjalanan yang penuh ombang-ambing dalam kurun waktu singkat selama saya berhenti menulis. Dan saat ini saya seperti kehilangan arah.
Pernah merasa memiliki sebuah tempat berteduh yang begitu nyaman hingga kamu lupa caranya menghindari perubahan cuaca yang selalu datang dan pergi tanpa peringatan? Atau memiliki sebuah tempat untuk berpegang sehingga ketika bumi terasa berayun kencang semua goncangan tidak berasa, dan ketika pegangan tangan itu lepas yang terasa hanyalah tubuh kita jatuh dan jatuh dan jatuh.
Saya bukan hanya seperti kehilangan arah, tapi juga seperti tersesat dalam langkah kaki saya sendiri. Dan yang saya rasakan hanyalah betapa jauhnya orang-orang berada saat ini sehingga saya tidak dapat lagi berteriak memohon pertolongan. Saya sudah tidak bisa lagi menangis karena tahu tidak akan ada lagi yang dapat mendengar.
Kata "takut" terdengar seperti an understatement. Saya bukan lagi merasa takut. Saya tidak lagi merasa. Hanya tersesat, dan tak tahu lagi harus mengarah ke mana.
Hidup memang mengejutkan. Tapi yang paling mengejutkan adalah ketika saya sadar bahwa bahkan ketika saya dalam sekian tahun selalu mengingatkan diri untuk bersiap akan hal apapun yang disodorkan kepada saya, tetap saja saya tidak siap untuk menghadapinya. Dan sekarang semua sudah terlambat.
Seandainya waktu bisa berputar balik. Seandainya saya bisa lebih bersiap diri. Seandainya ada yang bisa mendengar tanpa saya harus berbicara apapun dan memeluk saya tanpa bicara apapun. Seandainya saya bisa menghilangkan rasa kesepian yang menyakitkan ini. Seandainya menjadi dewasa tidak begitu terasa sepi. Mungkin suara di dalam kepala saya ini akan berhenti berteriak setiap saat dan saya bisa berpikir dengan lebih tenang untuk dapat menjalani semua. Mungkin.
At a cousin’s wedding event. While chatting with my grandmother, I saw a little girl, tall and skinny with a straight long hair, standing awkwardly in her purple dress and half clinging to her mother as if looking for protection.
I was reminded immediately to myself, on my early teenage years and thought of how much alike she is to how I was on those years.
And then a few minutes later her Mother approached this woman who sat next to me and told the girl to introduce herself.
The girl shakes the woman’s hand while introducing herself, “Dita”.
I was reminded immediately to myself, on my early teenage years and thought of how much alike she is to how I was on those years.
And then a few minutes later her Mother approached this woman who sat next to me and told the girl to introduce herself.
The girl shakes the woman’s hand while introducing herself, “Dita”.
Subscribe to:
Comments (Atom)


