Another Conversation

Selama beberapa waktu belakangan gue jarang sekali diganggu oleh kedua teman setia gue, Mind dan Heart. Kadang gue berpikir mungkin karena gue lagi berusaha untuk fokus ke pekerjaan ketimbang ke hidup gue, atau karena gue pun lagi bingung karena terlalu banyak suara yang gue denger jadi gue udah gak bisa denger lagi suara percakapan mereka yang biasanya menemani pagi hari gue.

Sampai suatu ketika...
Di suatu malam gue menerima sms yang membuat hati gue hancur, kecewa dan merasa kangen setengah mati sama satu sosok yang sebenernya udah nyakitin hati gue. Kata-kata yang nyakitin, emosi, ekspresi yang sama sekali gak gue sangka akan gue dapetin membuat gue ngerasa malam itu bener-bener kesepian. Dan gue menangis....

Saat itu, ketika air mata gue dengan deras mengucur di pipi gue. Gue bisa rasain seluruh tubuh gue terbagi di bagian-bagian kosong, dan ketika gue bener-bener kosong itu....gue bisa rasain kehadiran mereka. Berdiri menatap gue, yang sedang terpuruk di lantai kamar kost gue, dengan iba dan ketika gue mengangkat wajah gue menatap balik ke mereka, kedua teman gue itu mulai berbicara ke gue.

MIND : Please stop crying....

ME : But I can't stop...I'm hurt... I'm broken. Can't you see?

MIND : Of course I can see, That's why I'm asking you to stop crying

ME : Why?

MIND : It's not worth it. That person is just not worth it...

Tapi ternyata gue menangis semakin kencang...semakin berharap orang yang paling gue kangenin ada disini untuk merengkuh gue, memeluk gue, menenangkan gue...dengan segala caranya yang dulu selalu bisa membuat gue berhenti menangis. Dan ketika gue kembali menelungkup ke lantai kamar, gue bisa rasain
Mind, teman baik ku itu, melangkah maju mendekatiku. Tapi Heart, yang sejak tadi cuma diam menghentikan dia...

HEART : No, just let her.... She needs to cry. Let her...

MIND : I can't. I just can't take it. Please stop...

HEART : Just let her cry...

Suara
Heart yang begitu tenang justru mengejutkan gue. Dan sekali lagi gue menatap mereka yang masih berdiri menjulang tinggi di hadapan gue yang masih terpuruk di lantai kamar, membasahi pelapis lantai kamar dengan air mata gue. Gue tatap wajah Heart yang polos dan kosong. Gue bisa lihat betapa beratnya dia menahan sakit, seolah-olah dia sedang mengalami sakit yang sudah cukup akut yang seharusnya bisa menyebabkan dia terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan kabel-kabel menempel di tubuhnya.

ME : Why are you so calm?

Heart menoleh padaku dan bilang,

HEART : Why? Is there something wrong...?

ME : No, it's just that I am hurting. And you're supposed to be hurt

HEART : And why is that?

ME : Because you are my heart. You're supposed to be hurting. That's why I'm crying. Why are you so calm?


Wajah
Heart beralih menjadi kaku, tapi kedua matanya begitu tenang. Lama, akhirnya dia menjawab,

HEART : Because I've been so much in pain..... I no longer feel anything....

Dia menatapku begitu dalam, menghentikan seketika air mataku dan membuat nafasku lebih longgar ketika dia menjawab,

HEART : I'm numb.





The Amazing Cullen House of Twilight Movie

Udah nonton film Twilight?
Mungkin kalau yang baca tulisan ini adalah perempuan akan menjawab, "udah banget! gila si vampirnya ganteng banget yaaa..."Atau mungkin yang lain akan bilang, "Bella nya cantik bo..", atau, "keren deh filmnya romantis"
Tapi mungkin kalau yang baca ini berprofesi di dunia dengan hal-hal yang berhubungan sama desain, mungkin akan bilang,
"iya keren tuh...gila rumahnya Cullen mantaph!Keren abis...."
hehehehe...kenapa gue sempet kepikiran hal yang terakhir tadi? Karena memang itu reaksi yang muncul di pikiran gue ketika nonton film ini. Dan ternyata gue gak sendirian, seorang rekan di kantor dan seorang arsitek yang bernama
Budi Pradono pun ternyata terpesona abis dengan hal yang sama.
Wanna know what I am talking about?

Well...mungkin rekan-rekan yang udah nonton film
Twilight ini mengingat di satu scene ketika Edward Cullen sang vampir membawa nona Bella ke rumah keluarganya. Ada yang ingat scene ini?

Setelah menyadari bahwa gue dan rekan kantor gue mengagumi hal yang sama, beberapa waktu yang lalu di kantor kami sama-sama browsing di internet untuk mencari info soal rumah ini. Dan menemukan.....ini....

Dengan liat foto-foto di web tempat kami nemuin soal rumah yang amazingly crazy ini, kami mempelajari secara visual dan ngebahas soal desain, ide dan strukturnya. Dengan material-material serba kayu dan tiba-tiba ada bagian bangunan yang masif, struktur kantilever yang gak cuma keliatan di luar bangunan secara fisik tapi juga interiornya, dan memahami bahwa si arsitek mendesain dari bangunan, material, struktur, sampe interior....



Kesimpulan gue hanya satu : Arsiteknya gila......!!!


Insiden Busway

Pada suatu pagi di kota Jakarta...kira-kira beberapa hari yang lalu...

Pagi itu gue kesiangan berangkat kantor akibat kondisi kepala agak nyut-nyutan dan super lemassss karena sedang mendekati " masa periodik kewanitaan". Itu pun untuk akhirnya bisa berangkat gue harus memaksa habis-habisan diri gue untuk bangun dari tempat tidur dan melawan rasa malas, lemas dan memaksa otak gue untuk bisa berkonsentrasi padahal emang lagi sangat sangat sangat ga bisa fokus.

Seperti biasa kalo berangkat dari rumah Kelapa Gading gue pasti naik sebuah fasilitas kendaraan umum yang dinamakan dengan Transjakarta ato yang biasa dikenal dengan nama Busway. Dan pagi itu gue berangkat membonceng bokap yang melaju dengan motornya menuju ke halte Busway yang bernama Halte Bermis. Akhirnya setelah turun dari motor, gue pun berjalan dengan giat (meski isi kepala masih kosong melompong) menuju ke loket pembayaran kartu Busway. Kemudian dimulailah transaksi pembayaran kartu Busway....karena hari itu gue memakai celana yang ga ada kantongnya jadi terpaksa ngeluarin dompet dari tas untuk ambil uang untuk bayar kartu masuk Busway.

Proses dimulai...
Gue keluarin dompet dari tas, ambil selembar dua puluh ribuan rupiah dan gue serahin ke mbaknya yang ada di dalem loket. Setelah itu si mbak ngasi kartu masuk dan uang kembaliannya. Gue ulurin tangan kanan untuk ambil kartu dan uang kembalian, terus gue pun langsung fokus ke tangan kiri yang memegan dompet, dimana kemudian gue selipin tu kartu ke jari-jari tangan kiri gue yang memegang dompet sementara tangan kanan gue masukin uang kembalian ke dalam dompet. Gue ngelakuin ini sambil jalan dengan perhatian gue bener-bener gue arahin ke dompet gue, terutama karena masukin itu uang kembalian ternyata susah dan gue kebingungan nyari kartu ATM yang semalem asal aja gue masukin ke dalem dompet setelah gue pake untuk transfer uang di ATM. Sambil terus melakukan semua itu gue tetep jalan dengan tenang, melewati pintu dorong dengan mesin slot untuk masukin kartu dan menuju ke tempat untuk menunggu bus. Ketika gue masuk cuma ada satu orang yang duduk di kursi tunggu dan gue langsung menuju ke depan pintu untuk naik ke bus dan menunggu disitu. Dan gue pun berhenti disitu, berdiri di muka pintu dan menutup dompet gue yang masih kebuka dan menatap kartu masuk Busway di tangan kiri gue. Gue diem selama beberapa detik menatap kartu itu dan.........wwwhhaaaaaatttttt!!!!!????

Sadarlah gue akhirnya.......kartu Busway???? Ada kartu Busway di tangan gue!!!! Kenapa ni kartu masih gue pegang??? Spontan gue langsung menengok ke arah pintu dorong tadi dan sadar....ni kartu kan harusnya gue masukin ke situ! Kok gue bisa lewat gitu aja sih???

Oh my God....bodohnya saiiyyaaaa...

Setelah menyadari kebodohan gue, gue langsung menghadap kembali ke pintu dan dengan "sok" tenang gue selipin aja tu kartu ke dompet yang langsung gue tutup dan gue masukin ke dalam tas. Kemudian gue ambil HP, gue tutup kuping gue dengan headphone dan bertingkah seakan-akan gue nikmatin mp3 yang gue puter dari HP. Dan dengan tidak bersalah naik Busway dan berangkat lah gue ke kantor dengan kartu tadi masih di dalam tas gue.

Sumpah gue tolol banget....sepanjang perjalanan sampai gue kerja di kantor gue mati-matian nahan diri gue untuk ga ketawa ngakak padahal emang gue pengen banget ketawa (kalo perlu sampe nangis dan sampe guling-gulingan deh di Busway dan di lantai kantor).

Kejadian ini bener-bener terjadi loh...sebagai buktinya, nih gue kasi foto kartu laknat itu yang gue jepret di atas tempat tidur sebagai bukti.
hwakakakakakakakak....^^'v









Maavkan saiiiyyaa....
u_u


Song of the day p.2.

video

Sekali-kali masang video. Tapi lagu ini nemenin gue hari ini....enjoy^^


*Untuk teks lagu plus terjemahannya ada di sini

Inspirative Quote p.2.

Pesan dari seorang teman.....


Untuk Kalian Yang Ingin Hidup Bebas

Siapapun kalian, yang menginginkan kehidupan bebas, lepas dari belenggu sekolah, otoritas, orang tua, masyarakat, dan belenggu-belenggu serupa, kalian tidak sendirian. Kalian juga bukan orang pertama yang berpikir bahwa semua belenggu tersebut takkan pernah lepas, bahwa kebebasan sejati hanya dapat kita rasakan dalam khayalan dan mimpi siang bolong. Kita beranjak dewasa dengan dicekoki kalimat bahwa “kita harus bertanggung-jawab”. Semua keluh-kesah akan dunia, kehidupan, dan kondisi sekeliling kita, selalu dijawab dengan nyanyian lama “terima saja, hidup memang tidak pernah adil!”. Sepintas kita merasakan sinisme di dalamnya setiap kali kalimat itu berdengung di dekat telinga kita, kita dapat melihat wajah si pelontar kata yang menyatakan dengan putus asa bahwa ia tak berdaya atas kehidupannya. Dan itulah kenyataan sebenarnya yang ingin ia katakan, bahwa ia–termasuk kita semua–tak berdaya. Namun, di balik semua itu, mereka yang melontarkan kata-kata semacam itu, adalah mereka yang tak pernah benar-benar menjalani hidup yang sesuai dengan keinginan mereka. Mereka yang telah layu atau mati selagi hidup. Bagiku, kenyataan hidup tidak sesederhana kalimat “hidup memang tidak pernah adil” karena kemungkinan masih ada di setiap ruang bagi setiap manusia yang gigih dan berani mengeksplorasi setiap sudut kehidupan.

Terkadang aku juga seperti kalian, yang mengutuki dunia dengan sumpah serapah. Tapi, bisakah kita sedikit berbesar hati dengan mempertimbangkan sisi lain hidup yang pernah atau sering membuat kita tersenyum, merasa lepas, bebas dengan hati yang bergejolak. Momen-momen dimana kita akan berkata bahwa hidup itu tidak selalu busuk adalah ruang dan waktu dimana kita mengikuti mimpi dan keinginan. Memang, keseharian kita dipenuhi dengan “kekerasan, kemiskinan, ketertindasan, peperangan, dan pengrusakan” yang disebabkan oleh para penguasa ekonomi dan para politisi. Sehari-hari kita dituntut untuk mengamini semua ini dengan duduk di depan kelas, menonton televisi, mematuhi majikan, dan membuat semua inersia kehidupan menjadi rutinitas kehidupan kita sendiri. Tapi, kehidupan yang bebas itu masih mungkin. “Hidup itu indah” bukanlah semata slogan perusahaan periklanan dan senyum kaum borjuis di depan televisi, janganlah percaya pada apa yang disajikan televisi kepadamu. Kehidupan yang indah itu ada di sekitar kita, tersembunyi di balik tirai jendela dan di luar dinginnya tembok-tembok penjara, seperti sinar matahari yang diselubungi awan, kita hanya perlu mengayuh angin untuk menyingkapnya.

Aku juga sadar bahwa hidup seperti sekarang ini memang memilukan. Hidup yang bebas di bawah tirani kapitalisme dan negara menjadi semacam ilusi ketika setiap hari kita harus melakukan hal-hal yang tak kita inginkan. Kita harus menjual, menipu, dan berlaku tak adil kepada sesama agar kita dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita bahkan harus membuat mereka patuh seperti halnya atasan/pimpinan menginginkan kesetiaan kita. Mereka bilang, kalau kita tidak mempersiapkan diri kita untuk masa depan, maka tak ada alasan lagi untuk hidup. Kawan, orang-orang yang berkata seperti itu kepadamu sesungguhnya tak pernah mengerti ucapan mereka sendiri. Orang-orang tersebut mencoba berkata kalau mereka lebih dewasa darimu karena mereka menginginkan kepercayaan dan kepatuhanmu, seperti orang lebih dewasa sebelumnya yang telah merenggut kehidupan mereka. Mereka menginginkanmu untuk menjadi budak mereka, sampai akhirnya kamu mengamini perbudakan dirimu sendiri dan menerima legitimasi kekuasaan mereka terhadap hidupmu. Kapan kamu akan mulai menjalani hidupmu sendiri?

Argumen ini bukanlah suatu alasan untuk menyerang mereka yang bekerja untuk bertahan hidup. Beberapa orang masih sulit melepas rutinitasnya. Menyalahkan mereka karena pilihan tersebut adalah tindakan yang keliru, walau kita semua mengerti bagaimana pengaruh ’rutinitas’ kepada kehidupan kita. Semua ini bergantung pada pemahaman kita terhadap realitas keseharian, hubungan antarmanusia, dan bagaimana hal tersebut membentuk kesadaran bahkan emosi kita. Ada orang-orang terdekat kita yang menyukai pekerjaan mereka sebagai suatu wujud eksistensi di dalam masyarakat. Tapi hal terpenting dari semuanya adalah menyadari bahwa eksistensi hidup takkan diraih melalui semua itu, tapi dari apa yang benar-benar kita inginkan di dalam hidup.

Sadarilah, bahwa majikan ingin memperbudakmu. Sekolah mempersiapkanmu untuk menjadi bagian dari hubungan ekonomi-politis majikan dan budak. Orang tua menghendakimu mengikuti jalan hidup mereka–menjadi budak. Masyarakat menginginkanmu menjadi segala sesuatu yang tak kamu inginkan. Dan percayalah, bahwa kehidupan bebas berada di luar itu semua. Dan ingat, karena aku tak dapat mengingatkanmu hal ini berkali-kali, bahwa hidup yang bebas bukanlah kebebasan untuk mendominasi, memanipulasi, memperbudak sesama, dan menghancurkan alam sekitar (biosfer) demi kesenangan kita. Bukan, karena itu adalah kebebasan yang sekarang diamini oleh masyarakatmu–yang tidak bebas.

Aku keluar (bukan dikeluarkan) dari kuliah, dan tidak memikirkan bagaimana masa depanku akan menjadi. Meninggalkan rumah, orang tua beserta nilai-nilai suci yang tadinya diwariskan kepadaku. Aku bahagia karena aku menjalani hidup sesuai keinginanku, aku bahagia karena aku juga merasakan kesedihan sebagai bagian dari pilihan hidupku. Mereka bisa saja menuduhku egois, seenaknya, parasit, ceroboh, atau apapun tanpa berkaca terlebih dulu. Mereka bisa menghakimiku di dalam segala hal, tapi apa yang perlu mereka lakukan terlebih dahulu adalah melihat ke dalam diri mereka sendiri. Bisikan dalam hati seringkali tak nyaman untuk dipublikasikan apalagi diberitahu ke orang sekitar kita. Kita semua tahu apa yang sering kita keluhkan di dalam diri: ketidakpuasan yang kita rahasiakan yang seringkali dibaluti oleh keinginan-keinginan remeh, padahal apabila dicermati lebih jauh, keinginan tersebut menginginkan sesuatu yang lebih besar. Lebih besar dari apa yang aku dan kamu ketahui. Seperti ketika kamu menemukan cinta dan mengetahui apa yang kamu benci. Biarkan mereka berbicara sesukanya. Menuduh sesukanya. Biarkan mereka berkoar dengan bahasa yang penuh derita. Hidup harus terus berjalan dan memang sudah sepatutnya, bahwa untuk menjalani hidup berarti mengetahui mana yang harus kita perjuangkan dan mana yang harus kita tumbangkan.

Amorfati. Amen

Coba direnungkan.....


*tulisan quote ini jg gue tulis di http://acedreamland.blog.friendster.com


Bipolar Disorder

Bipolar disorder is not a single disorder, but a category of mood disorders defined by the presence of one or more episodes of abnormally elevated mood, clinically referred to as mania. Individuals who experience manic episodes also commonly experience depressive episodes or symptoms, or mixed episodes in which features of both mania and depression are present. These episodes are normally separated by periods of normal mood, but in some patients, depression and mania may rapidly alternate, known as rapid cycling. Extreme manic episodes can sometimes lead to psychotic symptoms such as delusions and hallucinations. The disorder has been subdivided into bipolar I, bipolar II, Bipolar NOS, and cyclothymia based on the type and severity of mood episodes experienced.

Also called bipolar affective disorder until recently, the current name is of fairly recent origin and refers to the cycling between high and low episodes; it has replaced the older term manic-depressive illness coined by Emil Kraepelin (1856-1926) in the late nineteenth century. The new term is designed to be neutral, to avoid the stigma in the non-mental health community that comes from conflating "manic" and "depression."

Onset of symptoms generally occurs in young adulthood. Diagnosis is based on the person's self-reported experiences, as well as observed behavior. Episodes of illness are associated with distress and disruption, and a relatively high risk of suicide. Studies suggest that genetics, early environment, neurobiology, and psychological and social processes are important contributory factors. Psychiatric research is focused on the role of neurobiology, but a clear organic cause has not been found. Bipolar disorder is usually treated with medications and/or therapy or counseling. The mainstay of medication are a number of drugs termed 'mood stabilizers', in particular lithium and sodium valproate; these are a group of unrelated medications used to prevent relapses of further episodes. Antipsychotic medications, sometimes called neuroleptics, in particular olanzapine, are used in the treatment of manic episodes and in maintenance. The benefits of using antidepressants in depressive episodes is unclear. In serious cases where there is risk to self and others involuntary hospitalization may be necessary; these generally involve severe manic episodes with dangerous behaviour or depressive episodes with suicidal ideation. Hospital stays are less frequent and for shorter periods than they were in previous years.

Some studies have suggested a significant correlation between creativity and bipolar disorder. However, the relationship between the disorder and creativity is still very unclear. One study indicated increased striving for, and sometimes attaining, goals and achievements. While the disorder affects people differently, individuals with bipolar disorder tend to be much more outgoing and daring than individuals without bipolar disorder. The disorder is also found in a large number of people involved in the arts. It is an ongoing study as to why many creative geniuses had bipolar disorder. (Sumber: Wikipedia Encyclopedia)(1)


Udah lama sebenernya gue pgn nulis soal ini. Bipolar Disorder…udh prnah denger? Sebuah gejala kelainan yang dialami beberapa manusia, tingkatan nya sedikit di atas Depresi dan jauh di atas Stres, dengan gejala yang disebut Manic(2). Kenapa gue nulis soal ini? Well, here’s the story…

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu pada masa sekolah gue pernah didiagnosa memiliki gejala depresi(3). Di saat itu gue cuma tersenyum dan bilang, “that’s bullshit”. Dan akhirnya menolak pemeriksaan lebih lanjut. Depresi itu akhirnya ga terlalu gue rasain, sampai akhirnya beberapa tahun kemudian – di masa kuliah gue – gue akhirnya memeriksakan diri atas saran seorang teman kuliah gue. Lagi-lagi, gue dibilang mengalami depresi. Tapi kali ini, gue akhirnya mau duduk di satu ruang bersama seorang ahli yang pada saat itu malah jadi ikut mengalami gejala gangguan jiwa setelah ngobrol sama gue, dengan jadwal sesi 2-3 kali seminggu masing-masing 2-3 jam. Sang ahli ini terus-terusan bilang gue depresi, tapi ga bisa bilang apakah gue bener-bener sakit ato “sakit”. Yang pasti ga ada seorang pun diantara kami yang bisa benar-benar menjelaskan apa penyebab sikap gue yang ga bisa tenang tapi juga terkadang justru terlalu tenang, apa penyebab ke’gelisah’an gue, apa penyebab pikiran gue yang sering tiba-tiba melayang ke tempat-tempat ga penting yang mengakibatkan gue ga bisa konsentrasi, apa penyebab kebiasaan gue yang meracau tiba-tiba tapi kemudian bisa diam sampai berhari-hari, apa penyebab gue yang seakan punya gejala schizophrenia(4) tapi sadar sepenuhnya untuk bisa membedakan mana yang imajinasi dan mana yang kehidupan nyata….dan terutama adalah, apa penyebab kekacauan emosional gue. Sang ahli ini akhirnya cuma bisa menggantikan minuman-minuman beralkohol yang gue konsumsi sejak masa sekolah dengan obat-obat dengan nama-nama keren – dari Vallium, Prozac, hingga Lithium –untuk bisa menenangkan gue. Terutama supaya gue bisa tidur di malam hari, karena di masa-masa depresi gue (termasuk ketika masa kuliah), gue nyaris ga pernah bisa menutup mata di malam hari(5). Walaupun….yah, namanya juga mahasiswa arsitektur. Klo malam ya ga gue minum dunk, bisa ga kelar atuh tugas2 gue…ya ga? Tapi tetep, obat-obat ini selalu ada di kantong gue ato at least ada di dalam tas. Siapa tau tiba-tiba gue dapet serangan adrenalin rush yang membuat gue tiba-tiba punya rage yang begitu tinggi seperti ketika satu kali gue pernah mengejar orang habis-habisan gara2 dia nyipratin air genangan ke mobil yang gue naikin bareng temen sekontrakan gue. Atau ketika gue tiba-tiba memukul cermin di hadapan gue tanpa alasan yang jelas, bahkan sampe sekarang pun gue ga bisa inget sebenernya gue kenapa waktu itu. Atau seperti ketika satu kali gue ngelempar stick drum gue dari atas panggung ke muka salah satu penonton yang teriak-teriak manggil-manggil gue dengan bahasa yang bikin emosi banget, bahkan nyaris lompat dari atas panggung untuk nerkam tu orang…tapi dunia beruntung punya seorang Aryo yang badannya cukup kuat untuk nahan gue waktu itu, heuheuheu^^

Bertahun-tahun gue dan sang ahli, beserta teman-teman gue yang tau soal ini, ga bisa nemuin jawaban soal apa sebenernya yang salah sama gue. Karena itu mulai beberapa waktu yang lalu, gue melepaskan diri dari obat-obatan ga penting yang ga terlalu ngebantu itu (terakhir gue mengkonsumsi Vallium), dan kembali beralih ke alkohol, untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya satu ketika….di satu hari ketika gue dan keempat temen kontrakan gue di Solo duduk bareng di depan TV, nonton The Oprah Show dimana jawaban itu ada. Tema saat itu membahas seorang wanita yang membunuh anaknya dan dihukum penjara entah berapa puluh tahun (maaf, gue lupa), dan didiagnosa memiliki kelainan jiwa. Ketika di penjara dan seorang psikiater diberi kesempatan dan waktu khusus untuk meneliti dan mengamati wanita ini, si psikiater menyebut istilah Bipolar Disorder untuk mendefinisikan apa yang dialami si wanita, yang ngakunya sering gelisah dan panik tanpa sebab, emosi-emosi yang tiba-tiba berubah, halusinasi-halusinasi yang nyaris nyata, bahkan amnesia singkat. Dan kemudian, keempat teman gue tersebut spontan menoleh ke arah gue. Bahkan Leny, salah satunya bilang, “hey, that’s you, honey….”, smentara gue cuma tersenyum dan bilang, “…damn. Thank you, Oprah”.

Sehari setelah itu, gue dan keempat teman gue menemui sang ahli yang udah bertahun-tahun berusaha meneliti sekaligus menemani gue menghadapi kegelisahan gue. Dengan membawa laptop Amey, dan mengajak beliau untuk browsing bareng di internet untuk mempelajari hal ini. Sedikit bersyukur juga sih, karena salah satu teman gue tadi adalah mahasiswi Psikologi di salah satu kampus di Solo, jadi dia bisa berkomunikasi dengan lebih baik ke sang ahli yang waktu itu shock berat karena baru kali itu gue dateng bawa teman, dan langsung satu rumah pula gue bawa, heuheuheuh….

Anyway, kami berenam pun akhirnya menyimpulkan, bahwa memang apa yang gue alami adalah sesuai dengan definisi di atas. Bipolar disorder…..hal ini sebenarnya belum gue komunikasikan dengan orang tua gue. Gak penting, mereka juga sama sekali ga tau soal segala kegiatan dan proses gue menemui ahli jiwa juga kok, hohohohoh. Setidaknya kami tahu apa yang salah ma gue dan gimana cara memperbaikinya, walopun gue masih menolak obat-obatan macam apapun untuk menenangkan diri gue. Sementara ini masih aman kok, daripada gue kelak jadi punya kecenderungan untuk menenggak habis obat yang gue kantongin ketika mengalami panik dan emosi berlebihan, jadi ya ntar aja kali ye berobatnya. Hahahaha…dengan mendapat jawab ini aja gue udah merasakan kebebasan kok. Seakan baru aja menemukan sepotong bagian puzzle dari diri gue yang ilang. Sekarang tinggal nyari potongan-potongan lainnya. Karena mungkin dengan begitu, gue justru ga akan butuh mengkonsumsi minuman atau obat apapun. Siapa tau, ya kan??


(1) versi terjemahan ada di sini

(2) diartiin biasanya dengan sejenis mania atau kepanikan tingkat tinggi, dimana si manusia yang mengalami Manic ini biasanya bakal mengalami serangan adrenalin yang bisa ningkatin kepanikan mereka secara berlebihan

(3) gue lupa itu taun berapa…yg pasti masi pake rok biru dan kawat gigi, heuheuheu

(4) ini sindrom kelainan dimana penderita mengalami halusinasi yang bagi dia bener-bener nyata, dimana ga bisa bedain antara halusinasi dan kenyataan. Penjelasan lebih lengkap ada lah di miss Wiki, kapan-kapan gue cariin klo emang pada mo tau. Ato cari sndiri mgkn lbh baik??heuheu…dasar org males

(5) ini disebut Insomnia, istilah yang cukup diketahui orang kebanyakan, ga perlu jadi ahli untuk tahu

*klo biasanya gue menyebut teman-teman gue dalam tulisan gue dan me-link-kan mereka ke profile mereka supaya pembaca bisa lihat seperti apa sosok dan bentukan teman-teman gue itu, kali ini ga dulu y…heuheuheu



New year's Resolution

oke...gue akuin ini cukup telat
Tapi....

HAPPY NEW YEAR!!!!!!!

heuheuheuheuh...
Seperti biasa, seperti yang selalu ada dan dilakuin orang-orang pada umumnya, pada tiap pergantian tahun ada aja orang-orang yang membuat sebuah list keinginan dan tujuan yang ingin dicapai tahun itu. Pada umumnya sih, hal ini dinamakan "Resolusi Tahun baru"....sedikit aneh memang, karena list ini kan buat satu tahun mendatang ya?Kan nantinya ga baru lagi dunk?heuheuheu...

Anyway, klo biasanya tepat tengah malam gue cm berdoa memohon Tuhan dengan ucapan yang sama :
"Semoga di tahun mendatang segalanya akan lebih baik"
Tahun ini agak berbeda....
Jauh berbeda bahkan....
karena kali ini, dengan berlandaskan pandangan bahwa tahun ini gue harus lebih dewasa dan harus lebih tahu apa yang gue inginkan dan gue butuhkan, maka tepat tengah malam pada saat pergantian tahun gue menandatangani selembar kertas di dalam jurnal gue yang bertuliskan 11 poin nomer hal-hal yang gue ingin gue dapatkan dan ingin gue raih di tahun 2009 ini.

tanya: kenapa 11?
jawab: kan tahunnya ganjil...heuheu
*maav, OOt dulu....

Isi listnya???
maav ga bisa gue tulis disini...tapi sebagian besar sih memang menggambarkan apa yang gue mau dan gue butuhin secara lebih mendetail ketimbang sekedar
"lebih baik".
Secara garis besar, bisa gue gambarin. Resolusi Tahun baru gue untuk tahun 2009 ini adalah untuk bisa keluar dari persimpangan jalan dimana gue berada saat ini. Untuk bisa mengambil pilihan hidup dan pilihan hati gue, untuk bisa lebih jujur dengan apa yang ada di dalam hati dan pikiran gue. Meskipun untuk kali ini gue mesti egois, ketika sebelum-sebelumnya gue selalu mengalah, meninggalkan apa yang sebenernya ada di hati dan pikiran gue dan mengorbankan kebahagiaan gue demi orang lain. Kali ini, gue yakin sekali pilihan hati dan pilihan hidup gue mungkin bisa menyakiti beberapa pihak tertentu dan bahkan terutama keluarga yang gue sayangi. Tapi gue punya keinginan....keinginan yang mau gue raih tahun ini.....


Bukan sekedar Kebahagiaan dan Kebebasan

Gue mau Hidup